Rabu, 26 Mei 2021

GURU KREATIF DAN INOVATIF

 

GURU KREATIF DAN INOVATIF

judul asli =

Oleh : Hamim Thohari Majdi
 
Guru Kreatif dan Inovatif
Satu-satunya profesi yang tiada banding dan tiada tanding adalah guru, perannya sangat dinantikan  bisa mengantarkan generasi hari ini untuk  meraih kesuksesan hidup di masa yang akan datang.  Guru adalah profesi yang tidak pernah mengalami pasang surut dalam hal jabatan, guru juga tidak pernah berpindah profesi layaknya pejabat yang bisa melompat lintas jabatan seperti kutu loncat, dan guru tidak pernah terkalahkan meskipun anak didiknya telah melaju menembus awan  dengan pesawat, dan juga para peserta didiknya memanggul di pundaknya bintang lima bahkan ketika sang murid menjadi penguasa negara, maka guru tetaplah guru, hari ini, esok dan selamanya
Maka patutlah kita sebagai guru berbahagia, karena peran strategisnya, dan kebahagiaan itu bukan untuk dijadikan pesta pora atau berbangga diri, namun akan memantulkan sejuta tugas dan tanggung jawab agar profesi guru yang disandang  benar-benar bisa meyenangkan, berdaya guna dan berhasil guna


Komitmen disusul kompetensi
 Apapun profesi atau status yang disandang seseorang, hal yang paling utama dimiliki adalah komitmen atas profesi dan statusnya (komitmen menjadi seorang guru -  komitmen menjadi orang tua). Komitmen akan melahirkan ketinggian harga diri, disiplin, kreasi dan inovasi. Guru  yang komitmennya tinggi akan selalu mempunyai ruang yang sangat luas dalam berpikir dan  energi lebih banyak dalam bertindak
Guru yang komitmennya tidak diragukan akan memandang peserta didiknya adalah intan yang terpendam di dasar lautan yang perlu digali dan dipoles hingga menjadi perhiasan indah dan mahal harganya. Memandang semua siswa adalah calon pahlawan, para pemenang dalam setiap laga, dan selalu bangga bisa menjadi pendamping dalam meraih impian peserta dididknya
Sebaliknya guru yang low commitment, selalu mengukur peserta didik dengan kemampuan dirinya (memandang peserta didik dengan jarak kemampuan antara guru-murid), motivasinya bergantung dari besarnya stimulus yang ada, reaward yang diberikan dan suasana hati yang menyelimuti, akibatnya guru-guru seperti inilah yang menjadikan dunia pendidikan seperti pasar “berebut mencari keuntungan”, dan biasanya sifat ini dimiliki oleh guru yang “sok Kompeten”
Komitmen yang tinggi akan melahirkan guru-guru yang kompeten, bukan kompetensi tinggi yang akan melahirkan guru yang komitmen, orang-orang yang komitmennya tinggi akan selalu berjuang untuk mempertahankan profesinya, memperkaya wawasannya, dan selalu melakukan role playing dalam proses belajar mengajar
Pintu Rumah Kita
            Pendidikan sering disamakan dengan perubahan, artinya dalam pendidikan terdapat proses yang sangat aktif merubah kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik, dan ultimate goal dari sebuah pendidikan adalah menjadikan seseorang lebih dewasa, lebih kuat secara fisik, psikis, dan spiritualnya sehingga mampu menghadapi kenyataan hidupnya
            Dalam proses perubahan haruslah terwujud perubahan yang beriringan antara guru dan murid, guru yang selalu aktif mengikuti perubahan siswanya dan siap melakukan perubahan sikap dalam mengoptimalkan potensi siswa. Bukan siswa yang harus dipaksa mengikuti kemampuan dan kemauan guru, seperti pohon yang ditanam di pot tidak akan bisa berkembang leluasa, pohon berkembang mengikuti luasnya pot
            Kepribadian seseorang dapat digambarkan seperti rumah, kita menyimpan segala sesuatu di dalam rumah secara nyaman, bahkan barang-barang yang tidak berharga juga kita nyaman menyimpannya di rumah. Artinya apa saja yang kita simpan di rumah adalah milik kita dan kita nyaman bahkan bangga bersamanya, itulah yang dinamakan karakter
            Pembatas dunia luar dengan rumah kita adalah pintu, biasanya kita akan membukakan pintu atas orang-orang yang sama dengan kepribadian kita dan bisa membuat nyaman diri kita. Sebaliknya orang-orang yang berlainan dengan kepribadian kita bahkan membahayakan, maka tetaplah pintu terkunci untuk selamanya
            Itulah gambaran proses pendidikan dimulai dari saling membuka pintu antara guru dan siswa, dan setiap pintu mempunyai kunci atau pass word, maka seorang guru harus mampu menciptakan banyak kunci untuk membuka mata hati siswanya, bukan siswa yang dipaksa untuk masuk ke dalam rumah guru, sementara di dalamnya penuh keangkuhan, keangkeran dan kesewenang-wenangan, pintu rumah siswa hanya siswa yang bisa membuka, kapan saja siswa mau dan untuk siapa saja. Dan guru sejati akan selalu menarik siswa untuk membuka pintunya
Menilai tidak sama dengan membandingkan
            Sering kita dengar keluhan di forum guru tentang perkembangan murid, guru A menyatakan anak-anak di kelasku luar biasa pinter semua, sementara guru B menyatakan kelasku seperti kapal pecah muridku jos gandos gak ada yang bisa di atur, dan guru C menyebut bahwa si fulan selalu bikin onar dan si falun selalu juara kelas.
            Kita, termasuk juga guru lebih mudah membandingkan dari pada membuat penilaian, lebih mudah memandingkan anak satu dengan anak lainnya dari pada membuat penilaian perkembangan yang dicapai siswa secara individual, akhirnya guru bersikap “gebyah uyah podo asine” membuat penilaian rerata. Guru yang baik adalah guru yang mampu melihat perkembangan siswa secara individual dari waktu ke waktu sisi kognitif, afektif dan psikomotoriknya, dan penilaian kelas bukanlah menjadi tujuan utama, sebab bila masing-masing siswa mampu berkembang sesuai dengan usia dan waktu pembelajaran, maka secara otomatis kelas itu menjadi kelas yang berhasil
  Ingat, keberhasilan pendidikan bukanlah dibandingkangkan antara gtingkagt prestasi siswa  satu dengan yang lain, pendidikan adalah menilai keberhasilan siswa dari waktu ke waktu dalam diri siswa itu sendiri
Beri nilai seratus untuk semua anak
            Dalam teori penguatan (reinforcement theory), motivasi seseorang (belajar bagi siswa) sangat tergantung dari rewad yang diterima dan punishment yang akan dialami. Pendidikan konservatif telah bertahun-tahun memegang teguh prinsip bahwa punishment (hukuman) adalah upaya mengarahkan siswanya kepada jalan yang benar bagi siswa yang “tersesat”. Sedang reward hanya layak bagi siswa “penurut”. Akibatnya memunculkan stigma siswa pinter dan siswa bodoh yang berdampak pada layanan pendidikan dan harapan masa depan
            Nyatanya banyak siswa yang dikenakan hukuman (fisik –psikis) bukan malah menjadi baik tetapi justru semakin parah dan akhirnya doup out. Dan tidak sedikit mereka yang selalu mendapat pujian prestasiya semakin baik karna  harga dirinya semakin meningkat dan motivasi belajarnya semakin tinggi. Maka patutlah kita renungkan dalam melakukan reinforcement terhadap siswa dengan merujuk firman Allah :
Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (QS Al-An’an 160)
 Jiwa juga perlu diinfus simak link di bawah

Hinaan atau hukuman adalah racun yang mengebiri kreasi dan membunuh karakter, sedangkan pujian adalah pupuk yang menyuburkan dan menghasilkan ruang berkreasi, inovasi yang tiada henti berprestasi setiap hari dan itulah kebanggaan guru sejati. dan tidak ada kerugian material maupun spiritual bila guru mau dan mampu memberikan semua nilai seratus kepada muridnya, dan tentu pada bagian keberhasilan yang diperoleh sebagai indibidu, sehingga nilai yang diberikan guru akan meningkatkan harga dirinya dan menjadi bekal sebagai maha bintang meraih masa depannya
 
Do’a Guru Sejati
 
Hari ini Kuucapkan Alhamdulillah, ya Allah !
Tahun ini, aku mendapat karunia dengan masuknya anak-anak yang luar biasa
Yang membuatku tertantang menjadi agent of change bagi diri mereka dan diriku sendiri
Terima kasih ya Allah !
Tahun ini aku belajar dari siswaku yang ‘tidak bisa diam’
Aku belajar dari siswaku yang sulit memahami materi,
Aku belajar dari siswaku yang nakal, yang setiap hari terus menggodaku
Aku benar-benar bersyukur ya Allah,Engkau Hadirkan mereka untuk aku
Bagiku mereka adalah rizki.
Bagaimana tidak, ilmu bisa bertambah karena kehadiran mereka
Kesabaranku bisa berlipat-lipat karena kehadiran mereka
Dan yang paling ku nikmati adalah
ketika mereka tersenyum dan membisikkan sebuah kalimat di telingaku,
“guru…… ternyata aku bisa”
Bagaimana aku tidak terima kasih kepadaMu, ya Allah
Jika kenikmatan ini terus menerus muncul dari hari ke hari di kelasku
Ya Allah….. berikan kekuatan kepadaku untuk terus berjuang
Menjadikan mereka insan-insan yang kelak akan punya manfaat
Bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agamanya Amiiin
Ya Rabbal ‘alamin
 (dikutip dari buku Gurunya Manusia karya Munif Chatif)
 Materi disampaikan Pada Persiapan Pembentukan Sekolah Inklusi
SD Kreatif MUDA Lumajang tanggal 23 Januari 2016

Guru Kreatif dan inovatif
Hamim Thohari Majdi
Ha Mim Co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar