KORELASI TEORI PENDIDIKAN DALAM PSIKOLOGI
Oleh : Hamim Thohari Majdi
Tulisan ini telah dimuat di majalah Suara PGRI (Lumajang) Edisi Agustus 2009
Psikologi pendidikan sebagai salah satu cabang psikologi hadir dalam rangka membantu kelancaran pencapaian tujuan pendidikan, yaitu membimbing peserta didik agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Karenanya sangatlah penting bagi pendidik atau pihak-pihak terkait dengan pendidikan mengetahui teori-teori pendidikan dalam psikologi sebagai password merajut sebuah pendidikan yang ideal
Setidaknya ada empat teori pendidikan yang populer dalam psikologi, yaitu ; behavioristik (Behavioral Psychology), psikoanalisis (Freudian psychology), humanistik (Humanistic psychology) dan transpersonal (transpesrsonal psychology).
Behavioristik
Pada akhir abad 19, Pavlov mendapat perhatian khusus berkat eksperimennya tentang kondisioning yang dilakukan pada anjing yang lebih dikenal dengan “bel” dan “air liur”, pada awalnya Pavlov menyediakan sepotong daging bersamaan dengan bel dibunyikan, melihat potongan daging spontan anjing mengeluarkan air liur, pengkondisian itu diulang berkali-kali, dan pada akhirnya Pavlov membunyikan bel tanpa penyuguhan daging, dan ternyata respon anjing tetap mengeluarkan liur
Eksperimen tersebut memberikan gambaran bahwa tingkah laku seseorang dapat dikondisikan sebagaimana yang diingini melalui pengulangan-pengulangan (pembiasaan) dan stimulus tertentu, dan tugas pendidik adalah memberikan stimulus kepada peserta didik untuk mengarahkan perilakunya pada standar yang ditetapkan sampai pada titik di mana perilaku itu muncul tanpa ada stimulus tertentu tetapi dengan penuh kesadaran, dalam bahasa pendidikan disebut dewasa
Hal yang ekstrim dalam pendidikan juga ditunjukkan oleh murid Pavlov berdasarkan hasil eksperimennya tentang pengenalan anjing kepada lingkaran dan elips, pada awalnya anjing mengeluarkan air liur ketika melihat elips, dan tidak bereaksi ketika melihat lingkaran, secara perlahan-lahan elips diubah menjadi menyerupai lingkaran hingga anjing tidak lagi bisa membedakan antara elips dan linggaran, hasilnya anjing semakin bingung dan berubah menjadi semakin galak, menyalak dengan keras bahkan siap menggigit.
Artinya, pendidikan yang tidak jelas (tidak berkarakter) akan membingungkan peserta didik, menjadikan brutal, menghambat pertumbuhan dan perkembangan bahkan bisa mengarah pada maladaptif sebagi akibat perlakuan yang tidak dikehendaki.
Behavioristik menekankan pada aspek kejelasan perlakuan dengan apa yang diharapkan, perlakuan yang positif menghasilkan hal yang positif, begitu sebaliknya. Karenanya menjadi kewajiban guru untuk senantiasa berpikir dan berusaha merumuskan tujuann pendidikan serta menyiapkan perangkat pembelajaran secara matang agar out come sesuai dengan yang dicitakan
Sumbangsih besar behavioristik dalam pendidikan berupa metode reinforcement yaitu konsekuensi dari tindakan yang membuat tindakan tersebut cenderung akan diulangi. Beberapa bentuk reinforcement, yaitu reinforcement intrinsik (rasa senang berprestasi, kepuasan karena keinginan terpenuhi) dan reinforcement ekstrinsik (juara, pujian, perhatikan,tepukan, sapaan). Dalam bentuk positif, reinforcement sama halnya dengan reward. Sedang dalam bentuk negatif sama halnya dengan punishment
Pemberian reward bagi behavioristik haruslah sesegera mungkin setelah muncul perilaku yang diinginkan, pemberian penghargaan kecil yang berkesinambungan lebih bermakna dalam meningkatkan prestasi belajar dibanding dengan pemberian besar yang diberikan hanya sekali. Guru dituntut mudah menghargai sekecil apapun hasil kerja siswa, dengan butiran-butiran pujian menjadikan murid merasa besar hatinya dan meningkat rasa percaya dirinya
Begitu juga punishment sesegera mungkin diberikan untuk menghindari maladaptif kronis, tanpa harus menunggu kesalahan besar. Untuk mengetahui kesalahan atau penyimpangan perilaku siswa, wajib bagi guru mempunyai standar sebagai tolok ukur apakah perilaku siswa sudah sesuai standar atau belum, bukan hanya berdasarkan penilaian subyektifitas guru
Reward dan punishment diberikan dalam rangka mengarahkan perilaku siswa pada tujuan pendidikan yang dicitakan, namun bila tidak tercapai, behavioristik menawarkan alternatif berupa extinction, yaitu menghentikan sementara reaksi siswa pada hal-hal yang biasanya menimbulkan reaksi. Siswa diminta tidak menghiraukan orang lain, hanya mengikuti instruksi guru dalam rangka penyelamatan perilaku siswa dan mengembalikannya pada standar yang ditetapkan
Siswa yang mengalami maladaptif biasanya diberi label “bodoh”, “nakal” dan sejenisnya oleh teman-temannya. Parahnya guru yang semestinya menetralisir, kadang malah ikut serta membenarkan label yang diberikan anak-anak. Hinaan-hinaan kecil walau kadang hanya gurauan tersimpan dalam memori anak, sehingga alam bawah sadar anak melabeli dirinya sebagaimana label yang diberikan oleh lingkungannya, dan secara perlahan-lahan melemahkan potensi yang ada dalam dirinya dan menghambat perkembangannya
Behavioristik melihat potensi berpikir manusia sebagai anugerah besar, karenanya guru perlu mengembangkan potensi ini dalam pengajaran untuk merumuskan langkah konkrit tindakan yang harus dilakukan. Guru dituntut untuk berpikir kreatif, melakukan inovasi-inovasi agar proses belajar mengajar menjadi menyenangkan, menyenangkan bagi siswa juga menyenangkan bagi guru.
Guru ibarat matahari menyinari mata hati siswa, tidak pernah berkurang sinarnya, semakin banyak ilmu yang diberikan semakin mempercerah sinarnya. Bukan seperti lilin, orang di sekitar mendapat sinarnya tetapi dirinya hancur terbakar hingga redup bahkan gelap gulita, sebagai gambaran lemahnya inovasi guru.
Barangkali ungkapan ini tepat untuk menjustifikasi teori behavioristik, “siapa yang menanam pasti mengetam”. Panen kita tergantung apa yang kita tanam, potret perilaku siswa merupakan refleksi perilaku guru, masa depan anak bangsa sepenuhnya berada di tangan guru. (bersambung)
Hamim Thohari Majdi
Direktur Lemdik Al-Ikhlash Lumajang
sedang mengikuti program Magister Psikologi Untag Surabaya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar