MENINGGALKAN RUMAH
Anak belasan tahun ini baru seminggu meninggalkan rumahnya, berpisah dengan orang tua, saudara dan tetangga serta kerabat dekat. Entah apa yang terbersit di dalam dadanya, mungkin kecemasan, kesedihan, bisa juga kegamangan alias tak tahu pasti apa yang sedang dirasakan. Ya harus meninggalkan rumah, adalah pilihan terakhir.
Isak tangis memecah kekakuan dan membuat langkah patah-patah. Tatap mata syahdu
Memberi bekal rindu entah kapan bisa ditebus. Perpisahan itu menyimpan rasa di antaranya ketakutan, walau sedikit menyelip rasa bangga, namun tak dilahirkan.
Meninggalkan rumah, berpisah dengan keluarga, orang-orang yang disayang dan barang-barang tercinta. Meninggalkan kebiasaan lama dan bersama orang asing yang belum diketahui riwayat hidupnya.
Pergi ke pesantren, dunia baru yang belum dikenalnya secara langsung, hanya mengetahui dari "katanya" oleh orang pernah dijumpai dan informasi media sosial.
"Tekatku sudah bulat" kata santri baru ketika diwawancarai oleh seniornya. Jenis santri seperti ini akan meringankan langkahnya meniti hari di pesantren dan memudahkan ustadz ustadzahnya membimbing. Beda dengan santri berbekal niat separuh hati, berbaur antara paksaan orang tua dan kemauan sendiri. Model santri seperti ini sangat bergantung lingkungan dan temannya untuk bisa tetap tumbuh bersama kiai.
Meninggalkan rumah beda dengan lari dari rumah, walau sama-sama menambah jauhnya jarak dari rumah. Meninggalkan rumah banyak disaksikan mata keluarga dalam restu yang membelenggu. Lari dari rumah, lazim tanpa permisi dan mencari sepi. Menuju Ma'had Tahfidzul Qur'an Bahrusysyifa Bagusari Lumajang.
Mengawali kegiatan santri baru diselenggarakan MADU SYIFA, daurah selama dua pekan dalam rangka penguatan niat, pengenalan lingkungan dan menciptakan keakraban.
Sangat menarik perhelatan closing ceremony-nya, tak menyangka calon penghafal Quran mampu menampilkan nasyid, pidato bajasa asing, puisi berantai dan stand up comedy si kembar.
"Aku meninggalkan rumah, menuju rumah singgah, untuk memperbanyak bekal mendiami rumah sejati kelak di yaumil qiyamah.
=============
Meninggalkan Rumah
Hamim Thohari Majdi
Ha Mim Co



Subhanallah. Meneteskan air mata tadz sy smg jd anak shaleh balasan surga.Aamiin
BalasHapusSubhanallah. Meneteskan air mata tadz sy smg jd anak shaleh balasan surga.Aamiin
BalasHapuscak ini memang super, ayo terus
Hapus👍👍👍👍
BalasHapusada saatnya di rumah dan ada waktunya meninggalkan rumah dalam upaya mempercantik rumah
BalasHapus