Minggu, 13 Juni 2021

PERNIKAHAN ANAK SIAPA BERKEHENDAK

PERNIKAHAN ANAK SIAPA BERKEHENDAK



Pernikahan anak masih saja terjadi utamanya pada masyarakat pedesaan atau pinggiran kota. Beberapa penyebabnya :

1. Keluarga

2. Kultur

3. Pendidikan

4. Akses

5. Teknologi

 Faktor keluarga       

Beberapa fakta menyebutkan, bahwa keluarga memiliki andil besar terjadinya pernikahan anak. Orang tua tidak berdaya menunggu hingga sang buah hati dewasa, terlebih ketika sang anak sudah memperkenalkan calon pasangan dan tampak terlihat akrabnya terlalu. 

Keluarga yang melazimi pernikahan anak tidak saja terjadi bagi masyarakat berekonomi menengah ke bawah, namun juga terjadi di kalangan "the have". Ini artinya, keluarga mengiyakan apa yang menjadi kehendak anaknya. Bahkan sebian ada yang mendorong agar anak perempuannya segera ada yang mendampingi, sehingga memperingan tanggung jawab ekonomi.

Faktor Kultur

Kultur bangsa Indonesia adalah adat ketimuran, terkenal dengan rasa beragama dan bermoral. Positifnya agama dan moral mengarahkan perilaku anggota masyarakatnya berpegang teguh kepanilai-nilai spiritual, hidup ini ada yang mengendalikan yaitu Allah Swt, Maha Menghidupi dan Maha Mematikan. Ajarannya adalah bila ingin hidup ini riang,ringan dan renyah perpikirlah semampunya, bila berat kembalikan kepadaNya. Agar hubungan dengan sang pencipta terasa mesra, maka lakukan apa yang disukaiNya dan tinggalkan yang membuat murka. Sedang dalam tataran sosial antar manusia memiliki kepentingan yang sama yaitu saling membutuhkan. Agar tercipta harmoni wajiblah saling menghormati, pengingkaran atas kepedulian akan mendapat ganjaran berupa sanksi moral.



Keterkaitan dengan pernikahan anak, ketentuan budaya yang tak tertulis, bahwa masa lajang yang terlalu lama tidak dibenarkan, bahkan menjadi aib, dianggap tidak laku. Maka bila ada yang menaksir pantang ditolak. Ketaatan kepada sang Pencipta membuatnya pasrah akan masa depan anaknya yang sekarang dinikahkan walau belum kuat dan belum siap lahir batinnya, ada Allah yang akan mengaturnya.

Kawin anak pemicu lainnya adalah norma yang berkembang dalam masyarakat, tidaklah pantas berlama-lama bila sepasang kekasih sering sua, maka perlu dihalalkan melalui akad nikah adat karena belum memenuhi usia yang ditentukan. Menutup aib sosial lebih utama, walau harus melanggar undang-undang negara. 

Faktor Pendidikan

Ketuntasan wajib belajar dua belas tahun bukanlah program yang tak terkait dengan perkawinan anak, nyatanya anak-anak yang terjebak akad dini, sebagian besar belum tuntas pendidikan SLTAnya, Sempat wawasan pendek pikir, menyejar bayang kenikmatan syahwat yang terjalin dalam jebakan cinta monyet

Lulus SLTP ijazahnya kurang mrnarik untuk dunia kerja, wawasan setingkat itu belum siap dengan kerja otak, kerja teknispun hanya otot andalannya.



Usia pubertas awal ini yang banyak memicu perkawinan anak karena naluri seksualitasnya tumbuh dan langsung ada jawabnya. Di ibaratkan sebuah perjalanan maka lulusan SLTA adalah berada di tengah, berjalan putar haluan tidak mungkin, melanjutkan perjalanan sungguh masih jauh.

Faktor Teknologi Informasi

Sebelum lahirnya era digital, lingkup sosial bermasyarat berkutat di sekeliling rumah atau desa dan paling jauh adalah tetangga desa. Karena komunikasi hanya terjalin secara tatap muka, bertemu langsung bila ingin berkenalan. Sehingga jodohnya tak jauh dari rumah. Keterbatasan infotmasi dan pirantinya menjadikan sempitnya putaran roda kehidupan.

Kini dunia tanpa batas, terhubung dalam hitungan detik walau dengan ruang dan jarak yang berbeda, sebagai hadiah rekayasa teknologi,  bahkan kini hampir tak ada lagi yang gagap berinteraksi dengan tekonologi meski anak-anak usia PAUD. 

Fakta menunjukkan kehadiran teknologi menjadi ajang pencarian jodoh. Imbasnya anak-anak menjadi sasaran asmara yang tak sengaja bermula dari iseng "nyamperin" hingga terjerembab dalam kubangan asmara. Anak-anak menemukan dunia baru dengan orang baru dan rasa yang baru, singkatnya menjakan pemaksaan kepada orang tua untuk dinikahkan.

Terkait dengan konten misalnya sinetron atau film dengan vulgar menayangkan adegan orang dewasa, kisah di kamar tidur dan sejenisnya, ini menjadi menarik dan tersimpan di memori anak-anak, sehingga mereka dewasa sebelum tiba masanya.  Masih banyak hal berkaitan dengan apliklasi hawai yang menjadi pengungkit pernikahan anak. 

Aktor Akses

Berkaitan dengan sarana infra struktur adalah keterbelakangan beberapa wilayah dengan keterbatasan dan harus mendapatkan di desa atau kecamatan tetangga dengan biaya dan waktu yang tidak murah. Kondisi ini bisa menjadi salah satu pemicu pernikahan anak. Anak terkugkung pada tempat yang sangat terbatas sulit untuk mengembangkan kualitas diri sehingga putaran hari hanya menunggu masa remaja laku dikawinkan.

Hidup dalam lingkup yang jauh dari sarana pendidikan, maka akan menjauhkan angan untuk menjadi insan terdidik. Lingkungan yang masih perawan tidak mungkin menyuguhkan lapangan pekerjaan. Maka tidaklah perlu menunggu terlalu lama untuk berkeluarga.

Perkawinan anak dalam lingkup ini adalah jalan keluar bagi mereka dari suasana rutinitas. 



Rasanya bila ada pilihan dan terbentang kesempatan, sepertinya tak ada yang menginginkan.adanya pernikahan anak. 

Tanggung jawab seluruh elemen masyarakat untuk terus melakukan edukasi menuju.keluarga sejahteran, keluarga samawa dengan keseapan.material dan spiritual, jiwa dan raga. Lahir dan bathin.

Keluarga yang direncanakan lebih mudah menggapai tujuan yang dicitakan.

===============

Hamim Thohari Majdi

Ha Mim Co

Pernikahan anak siapa  berkehendak



1 komentar: