TEGO LARANE ORA TEGO PATINE
Tego larane ora tego patine, bila dibahasa Indonesiakan, tega sakitnya tidak tega kematiannya. Fenomena ini sudah menjagat, banyak terjadi pada lingkungan keluarga karena sesuatu hal yang tidak menyenangkan hati, lalu membatasi kontak baik fisik maupun batin.
Kisah nyata baru saja terjadi, di tengah pandemi, datanglah mobil ambulance pengemudi dan asistennya memakai APD, dari kejauhan masyarakat sekitar berhamburan keluar rumah ingin menelisik secara dalam, siapakah yang terserang covid-19. Tak ayal semua mememdam tanya, hanya saling pandang, karena tiada kabar sebelumnya tentang warga yang terkonfirmasi.
Usai ambulance menghentikan lajunya dan parkir di depan rumah salah satu warga, masyarakat yang hadir terdiam dengan pandang yang diarahkan ke mobil ambulance. Tiada peti dan tiada isi dalam mobil kecuali sopir dan asistennya. Sejurus kemudian kedua rekan ini mengeluarkan tempat tidur, masuk rumah dan kembali ke mobil setelah sesosok manusia tanda gerak dan tak bernafas ditandu.
Suasana masih hening, tiada yang bisa menjawab. Laun-laun ketika mobil ambulan dengan membunyikan sirine meninggalkan tempat, barulah obrolan kecil mulai memecah suasana. "tego larane ora tego patine" celetuk salah satu warga yang rumahnya berada di samping TKP.
Secara ringkas, bahwa mister X belum lama di rumah orang tuanya, bahkan tadi malam masih ngobril dengan para tetangnnya, ketika ditawari untuk gabung bakar di gerdu, beliau menolak dan berkata "maaf aku gak.enak badan, lain kali aja". Ternyata itu kalimat terakhir dan menjadi penanda perpisahan.
Mr x meninggal dalam keadaan duduk, tampak menanggung beban berat. Kematiannya menjadi PR bagi orang tuanya, karena untuk mengurus pemakamannya harus disertai kartu identitas. Usut punya usut seluruh identitasnya berada di rumah yang terletak di kecamatan lain. Lalu dihubungilah isterinya dan diputuskan untuk dimakamkan di tempat tinggalnya.
Misteri kematian Mr X dalam perbincangan warga karena beban moral yang berat menghantui pikirannya. Ia diusir oleh istrinya sambil mengancam "kalau tidak bawa uang jangan pulang". Keraguan orang tuanya untuk menghubungi menantunya karena konflik yang terjadi, namun akhirnya sang istri meminta jenazah Mr dimakan di pemakaman desa.
Dari situlah masyarakat menyimpulkan ternyata tego larane ora tego patine, rasa kemanusiaannya tumbuh seiring dengan datangnya kematian.
Pelajaran yang dapat diambil, bahwa harga diri menjadikan sesorang melemah ketika ada orang lain menginjaknya, lalu merusak alur berpikir, ketika tidak menyandarkan kepada yang Maha Kuasa, akhirnya berada diambang batas kemampuan, bahkan los dol.
Kedua, kehidupan berumah tangga harus mengedepankan nilai lebersamaan sebagai pasangan, saling menguatkan di saat salah satu dalam keadaan lemah. Saling mengisi di kala salah satu belum penuh. Musyawarah dan kebersamaan adalah pengendali utama. Saling mengancam menjadikan semakin runyam. Lalu bersama dan urai bersama
=================÷
Hamim Thoahari Majdi
Ha Mim Co
Tego larane ora teg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar