Tapak yang Tertinggal. Perjalanan hidup manusia menuju arah ke depan, meninggalkan jejak yang tersisa di belakang. Sebanyak langkah yang terayun, itulah bilangan yang akan dikenang. Lebih dari itu ada kesan yang tersebar, ada kebahagiaan, ada kedukaan, ada kegamangan, ada ketegasan, ada ketakutan ada keberanian. Semuanya akan menjadi ukiran pentas hidup, yang kelak menjadi pertunjukan jaman.
Tapak yang tertinggal, membawa sebuah penanda, namun tak bisa dihapus, meski dapat dilupakan. Tiada kuasa untuk mengulang, penyesalan ibarat nasi yang sudah basi atau telah membubur. Tak pelu sedih mendalam dalam mendung yang tertinggal dan tak perlu riang seperti pelangi bila ada kebaikan.
Namun tapak yang berada dalam pandang mata, membentang lurus tatapan mata, adalah bayang fatamorgana, hendak dilukis apa, akan ditulis apa saja, masih ada waktu untuk membuat perencanaan matang, ada sempat untuk menjulur alternatif, ada waktu timbang kekuatan pelaksanaan. Beribu mungkin masih tergelar. Karena tapak depan walau remang, masih kosong dan putih, siap untuk dinarasikan pelakunya.
Sebagai bahan penutur, perlulah memiliki kekayaan diksi dan visualisasi untuk memudahkan dalam menatap masa depan. Apa yang dipikir hari ini kelak menjadi nyata ketika semuanya sudah siap. Penataan yang rapi memudahkan penggapaian mimpi. Tetaplah dalam tujuan jangan ubah walau surut nyali, berkobarlah selalu walau cibiran yang pernah he ti, hanya sendiri yang peduli dengan masa depan anda.
==================
Hamim Thohari Majdi
Ha Mim Co
Tapak Yang Tertinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar