Tinggal sebatang kara. Kisah pilu, namun karena kurang biasa saya menulis sebuah kisah. Bisa jadi sangat kering bahasa dan tidak begitu mesra ketika dibaca. Sebut saja mr X kini usianya lebih setengah abad, hidup seorang diri. Tak lagi memiliki wisma dan ditinggalkan oleh isterinya. Bila dituntut perjalanan hidupnya ini bukanlah karma, saya lebih menyebut akhir dari permainan
Inggat, bahwa amal bergantung dari akhirnya.
Membangun rumah tangha, sepertinya hanya difungsikan seperti hotel, tempat istirahat atau tidur, tanpa ada keterikatan dengan yang lain. Seisi rumah dianggap tidak ada. Berperilaku semaunya. Pergi di sore hari pulang larut malam kadang sampai dini hari. Membangunkan penghuni rumah yang sedang tidur nyenyak dan menikmati bunga-bunganya. Rutinas ini baginya menyenangkan. Tentu bagi anggota keluarga lain sangatlah mengganggu.
Kali ini adalah rumah tangganya yang kedua, setelah sang isteri pertama tak sanggup menjadi tukang buka pintu. Kehidupan malam dan bermain tebak angka tak pernah surut meski sang isteri berkali mengingatkan. Anehnya hobinya justru mengalami defisit keuangan. Kondisi yanh demikian sebenarnya belum mampu menggoyahkan kesetiaan sang isteri. Ia rela merjibaku dengan waktu demi pundi-pundi rupiah, bahkan depositonya bisa ditukar dengan sebidang tanah yang sudah berdiri kokoh bangunan rumah. Perempuan ini walau berstatus sebagai isteri, namun seperti single parent. Semuanya dikerjakan sendiri. Namun situasi kian hari komunikasi suami iateri kian redup, gelap tanpa cahaya, berangsur menjadi gulitanya hati. Diambilh keputusan yang selama ini tak pernah terpikirkan, bahkan membayangkan saja tidak sama sekali. Ia tinggalkan suaminya, karena bukan lagi menjadi pujaan hati, malah menyesaki hati, merobek-robeh hingga terurai seperti benang.
Lelaki itu menjalani hidup seorang diri, kepergian isterinya kembali ke pangkuan orang tuanya, tak membuatnya sebagai bahan renungan, diambil pelajaran, lalu hikmahnya disyukuri. Justru teras bebas, merdeka tiada lagi yang menjadi beban kehidupannya.
Waktu berjalan terus, bermain angka tidak pernah jeda. Seperti yang terjadi pada dunia tebak angka, tiada yang membiatnya kaya, namun tak menjadikannya jera. Hingga suatu saat ada yangbbertanya, "mengapa bapak menyukai dunia angka", dengan ringan ia menjawab "mudah mencari uang dan banyak kawan"
Ia lebih memilih kawan daripada keluarga, lebih senang berselimut empun, dari pada menghangatkan dalam dekapan terkaaih.
Sore itu seperti ada petir kedatangam tamu yang aneh. "Bapak ke sini mau apa? mau ketenu siapa?" tanya tuan rumah.
Jawaban sang tamu mrngagetkan "rumah ini sudah aku beli dan akan kutempati bersama keluarga".
Untung saja, pemilik rumah baru ini masih memberi tempat di belakang untuk mantan pemiliknya.
Namun perilaku yang kurang ramah dan semau gue menjadikan penghuni baru terganggu, wal hasil langsung mengusirnya.
Kini ia tidur dari teras ke teras, para saudara enggan merawtnya karena sudah pernah terluka.
Hidup perlu sendiri dan kadang menyendiri namun bila kesendirian itu karena tak lagi yang sudi memerima, itu beda.
====================
Hamim Thohari Majdi
Ha Mim Co
Tinggal sebatang kara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar