KERJA KERAS BUKAN KERAS BICARA
Kerja keras ukan keras bicara. Dalam memasarkan sebuah produk biasanya melebih-lebihkan dari yang dimiliki (yang ada) , tujuannya agar calon user atau pembeli terpikat dan menjatuhkan pilihan kepada apa yang sedang dipromosikan. Garansi seratus persen dan harusnya lebih yang direalisasikan akan menumbuhkan kepuasan dan kepercayaan pasar. Sebaliknya sedikit realisasi, bahkan berbalik dari janji, sangatlah sulit diterima oleh pasar, masyarakat tidak lagi mau peduli, seperti kisah pengembala domba dan harimau, kabar palsu atau pembohongam publik berakibat pada keengganan masyarakat untuk mendengar ucapannya, walau pada saat itu kabar atau berita yang dibawakan valid, namun terlanjur menanam luka, maka rengekan pengembala agar domna-dombanya terselamatkan dari biasnya hari mau, hanya menjadi keram sosial, tidak ada yangbpeduli dan berempati.
Sebuah fakta menunjukkan, seorang bocah, lulusan sekolah dasar (SD) sedang mencari sekolah lanjutan, berbarengan dengan itu banyak brosur yang sudah dikantongi, satu brosur dominasi warna hijau ditarik dari tengah-tengah tumpukan di atas meja, dibaca pelan-pelan, terdapat tulisan yang sengaja warnanya dibuat kontras "program unggulan, tahfidz", "wow! Ini yang gue cari" teriak bocah bongsor ini sambil memindahkan posisi dari tempat duduknya.
Tahun pelajaran baru dimulai, bocah langsing ini tampak riang, gembira sekali, karena sudah gede jadi siswa SMP, lebih senang lagi di sekolah barunya ada program yang diidamkan. Memasuki bulan kedua, bocah ini surut gairah brlajarnya, perlu dipaksa bila hendak pergi ke sekolah, pendiam dan mengasingkan diri dari teman-temannya. 'Nak, akhir-akhir ini kelihatan murung dan cemberut, ada apa ya! boleh ustadz tahu?' Ujar wakil kepala sekolah bidang kesiswaan ketika duduk bersebelahan dengan siswa ini. Tak banyak bicara 'saya ke kelas dulu ya ustadz' jawab anak ini sambil membungkukkan badannya berjalan perlahan lewat depan ustadznya. Selidik-punya selidik dengan kelembutan dan kasih sayang, akhirnya calon hafidz ini berterus terang 'kapan program hafalannya dimulai?" Tanyanya sambil menundukkan kepala. Sang ustadz tak bisa langsung menjawab, perlu mengurai, namun tak semudah membalikkan telapak tangannya agar siswa ini mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Wal hasil, akhir cerita, anak ini harus pindah sekolah dan tidak ada yang bisa menghalangi apalagi mencegah. Sudah terlanjur senang, jatuh cintanya kepada sekolah ini tak mendapat umpan balik, seperti bertepuk sebelah tangan.
Kekecewaan anak ini berulang ketika menapaki pendidikan sekolah lanjutan tingkat atas, di kota pelajar, sudah diterima di sekolah negeri keagamaan dengan ekatra kulikuler seambrek, tapi janjinya untuk mendatangkan musrif tak kunjung tiba, kekecewaan terlanjur bersarang dihatinya, menjamur dan berkembang biak, tak lagi sanggup menerima kenyataan dan kegagalan hal yang sama kesekian kalinya.
Mungkin sekolah tidak merasa malu atau bersalah atas janji yang pernah di sampaikan, berlalunya waktu dan padatnya kegiatan mrnambah susah untuk mengingat. Karenanya para guru tidak boleh turut membela pada pepesan kosong. Janji sangat berat bila ditaati separoh saja, apalagi sengaja diingkari. Pepesan kosong akan membuat bengong, korbannya berusaha untuk menghibir diri, bila tidak mau protes, yang membuat janji akan mengurangi kepercayaan diri.
=======================
Hamim Thohari Majdi
Ha Mim Co
Kerja Keras Bukan Keras Bicara.
Hindari pepesan kosong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar