Sabtu, 22 Januari 2022

BERUJAR SANTUN

 BERUJAR SANTUN

Berujar santun.  Memulai aktifitas pagi, belajar menyapa "punya nomor telpon tukang sayur" Aji membuka percakapan dengan teman satu rumah.  "sudah lama aku tidak kontak dengannya" jawab perumpuan yang sudah dandan rapi dan hendak keliar rumah. Pandangan Aji mulai terarah pada gaun dan sekujur tubuh terbungkus warna merah muda, "anggun, wangi pula" hanya bisik dalam hatinya, Aji tidak berani melafalkan dengan jelas.

Aji merasa senang bisa sarapan bersama dengan perempuan itu, sesekali curi pandang, "mbak nambah krupuknya ya" Aji menyodorkan sepiring krupuk yang diambil dari kaleng berwarna biru. Lahap sekali perempuan itu, seakan sudah lama mengidamkan makanan favoritnya, rawon kikil. 

Kali ke sekian Aji berhasil memperlambat hati perempuan yang semestinya bergegas, bahkan niat "kabur" dari pandangan Aji. Perempuan itu tidak berkutik tiada lagi siasat yang direncanakan, "aku mati kutu dengannya" wanita itu curhat dengan dirinya sendiri.

Sungguh benar, perempuan itu telah menghabiskan sebagian waktunya untuk sebuah acara, berkali-kali ponselnya berdering, pesan masuk tak terhitung, wanita itu tetap tidak memberi perhatian, ia percepat langkahnya, "wah, terlambat, mungkinkah mereka masih setia menunggu kedatanganku' perempuan itu mulai cemas, berbicara sendiri. Pandangan perempuan ini tertuju pada satu bangunan kecil, dominasi cat berwarna kuning. Pintunya terbuat dari kaca hingga yang di dalam bisa terlihat walau ada silau dan bayang dari luar, antara segerombol orang atau tumpukan barang. 

Aji masih duduk di tempat makan, tak beranjak sedikitpun seakan perempuan itu masih menemaninya.  "Halo, halo..." panggilan terputus, terhubung ulang, putus lagi, Aji mengeraskan suaranya "haloooo..." kali ini banggilan berakhir, Aji berusaha telpon balik, namun di ponselnya hanya tertulis memanggil, artinya belum terhubung dengan nomor yang dituju.

Di depan runah, mulai banyak orang berlalu lalang, pergi ke pasar, sebagian menunggu jemputan dan para siswa yang hendak ke sekolah. Aji masih terpaku dengan panggilan tak terjawab, sama sekali tidak terganggu oleh hiruk pikuk kendaraan bermotor.

"Marni, ada apa denganmu, kau baik-baik saja" tanya Aji kepada perempuan itu, tapi marni semakin mengencangkan langkahnya 'brakkk, Marni menutup pintu dengan kekuatan penuh. Aji hanya bengong saja, melihat perempuan yang tak mrnanggapi pertanyaannya. Padahal Aji sudah berusaha  berujar sesantun mungkin


===================

Hamim Thohari Majdi

Ha Mim Co

Berujar santun

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar