SAKIT BERIMPAS BAHAGIA.
Sakit berimpas bahagia. Hal yang paling mereka sembunyikan adalah sakit yang sedang derita, malam itu tiba-tiba batuk menyerang Aji, pahadahal seharian tiada tanda-tanda yang tampak. Biasanya tenggorokan Aji paling sensitif dengan saos, ditelisiklah makanan apa saja yang ditelan mulai pagi, " mungkin sambel terong ya, tapi yang terasa tadi asin" telisik Aji "bahkan aku sempat meledek yang bikin sambel, bedanya kalau yang nyampel orang tepung rasanya pas, kalau masih muda, biasanya asin, tanda masih bergaira" ucap Aji seraya pecahlah keheningan karena makam, dan kompak tertawa.
Marni mengoles seluruh tubuh Aji dengan minyak kayu putih, untuk mengurangi demamnya. Bahkan Marni rela mematikan AC kamar hotel agat Aji bisa tidur nyaman dan tidak diusik oleh dingin yang merasuk ke dalam tulang sumsum. Malam itu dilalui berdua dengan lelap, walau sesekali Aji meraung kecil, kepanasan atau demam yang cukup tinggi.
Pagi, langit tertutup oleh awan, sehingga terbitnya matahari tak bisa dinikmati, seluruh peserta berbondong menepi ke pantai untuk mengabadikan momen berada di seberang pulau dewata, bersamaan dengan itu ada acara resepsi pernikahan out door, dekorasi begitu elok, menjulur nafsu untuk berfoto ria. Tak terelakkan berebit satu sama lain. Marni, begitu menjaga privasi orang ketika mengambil gambar. Diambillah jalan samping gamparan karpet abu-abu. "Daak" Marni terjatuh karena menginjak lubang yang tertutup. "Ibu. Mestinya bisa lewat sini" ujar sepasang muda mudi untuk menebus rasa bersalahnya. "Kami sangat paham, kalau fotonya bocor juga kurang sreg" komentar Marni menimpali, kata bocor lazim digunakan bila di belakang foto ada sesuatu atau seseorang yang bukan menjadi obyek pengambilan gambar.
Setelah rombongan berhenti menunaikan shalat maghrib, badan Marni terasa aneh, bagian kiri seperti terkilir dan memar, jalannya tertatih-tatih. Dengan sigap Aji melumuri dengan minyak, sakit memang rasanya, sekujur tubuh ada rasa yang tidak enak, sembari dipijiti Marni merintih kesakitan, memang obat kadang pahit, pijit juga sakit. Berangsir-angsur rasa sakitnya surut hingga nyaman untuk jalan perlahan.
Kebersamaan yang mesra itulah yang mengurai kesemuanya, keluhan yang tak sempat terucap, sakit yang bisa dijalani secara jenaka.
==========================
Hamim Thohari Majdi
Ha Mim Co
Sakit berimpas bahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar