Minggu, 06 Maret 2022

Suara ibu

 Suara ibu


Marni menolak untuk segera pulang, masih bermesra dengan kampung halamannya. Si mbok juga merasa senang ada Marni, anak semata wayang, dua tahun tak sua cukup menumpuk rindunya, kini rindu itu telah menemukan bejana, tumpah dalam senandung sua. Selama berdua ibbu dan anak ini, lebih banyak saling bercerita, tidak aktivitas lain. Kecuali makan dan sederetannya.

"Marni, emak bangga punyaanak kamu" tiba-tiba ibu Marni berujar seperti itu sambil menerawang jauh menembus atap tatapan bola matanya, seakan sedang terbang di angkasa, "ha...! " Marni kaget dengan pernyataan ibunya, peserti hujan tanpa mendung. "Udahlah bu, Marni Juga bangga menjadi anak ibu"  balas Marni menenagkan hati ibunya.

Ibu Marni seorang pekerja keras sebagai single parent ketika Marni Masih kelas tiga SMP. "ibu sudah berjuang cukup lama untuk Marni" ucap Marni dalam hatinya. Marni sangat paham, bila sekarang ibunya bangga dengan dirinya. "Aku harus membuat ibu selalu bahagia" tekat marni meneguhkan hatinya. Bagi Marni kebahagiaan ibunya adalah hal utama, sebagai tolok ukur kebahagiaan dirinya.

Matahari sudah condong ke barat, Marni masih menempelkan badan ke ibunya, "halo" suara dari Android, "Marni, masih di rumah ibu", ternyata suara itu dari Aji. "Iya mas, ini masih sama ibu". 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar