MUDIK BERPIKIR
Hampir sisi kota ini disusuri, tak ada warung yang siap melayani pelanggan, suasana sepi, dominan pemudik dan penikmat eforia lebaran, maklum belum genap seminggu, selamatan ketupat. Tampaknya para pemilik warung ingin mengenakan baju lebaran, lepas ckemek dan baju kebesaran dapur. "mereka punya keluarga, punya sanak famili yang disapa" jelas Aji kepada Marni. Maklum marni sudah lama menginginkan makan di warung ala desa, warung apa adanya, tidak didesain desa, tapi betul-betul desa.
BBM motor jarumnya mengarah ke kiri. Langsung banting stir menuju SPBU, jangan sampai telat mengusir hausnya sepeda mesin. Pertalite masih menjadi idola, masyarakat berharap pemerintah memenuhi hajat anak bangsa. Belum pulih sepenuhnya. Masih kembali merangkak, semoga lebih cepat.
"soto dua, bungkus mas" pesan Aji kepada penjual soto ayam yang mangkal di trotoar jalan propinsi, "pakai nasi?" tanya abang, disahuti oleh Aji "ya, sayurnya dipisah". Beruntung penjual.soto ini berpikir mudik terbalik. Baru pekan depan ke kampung halaman. "Saya kasihan orang-orang yang cari makan, biasanya lebaran banyak warung tutup" tegas cak totok yang akan mudik kr lamongan. Beliau menyebut bukan abal-abal, "memang asli lamongan sudah berada di lumajang sejak tahun 2004: pungkasnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar