SING WARAS NGALAH
anak : ayah, ada pernyataan yang menggelitik
Ayah : apa itu nak!
Anak : sing waras ngalah
Ayah : kamu dengar dari siapa
Anak : waktu ada perdebatan di gardu kamling
Ayah ; kalimat lengkapnya bisa kamu ulang
Anak : pokoknya aku dengar dengan keras "sudah, sudah, bubar, sing waras ngalah"
Ayah : ooo..
Anak : o... bagaimana
Ayah : kamu tahu, mengapa terjadi pertengkaran atau perdebatan yang tidak berujung?
Anak ; ya itu aku tayakan ayah!
Ayah : keduanya berebut benar, tanpa memperhatikan dan menghargai apa yang disampaikan lawan bicara.
Anak ; kan betul ayah, debat itu untuk mencari kebenaran
Ayah : memang betul, tapi yang banyak terjadi adalah merasa.dirinya paling benar.
Anak : kalau tidak ada simpulan kebenaran dalam debat, buat apa berdebat, muspro ayah.
Ayah : maunya begitu, namun manusia memiliki hawa nafsu yang bisa mengalahkan akal dan nalar
Anak : jadi yang ingin dinyatakan benar, itu keinginan nafsunya ya ayah.
Ayah : ya, kalau seseorang sudah dikuasai oleh hawa nafsunya, maka mumcul sikap kebinatangan.
Anak : Maksud kebinatangan !
Ayah : ya serakah memenuhi perutnya dan ingin memangsa yang lain
Anak : ada lagi!
Ayah : sikap syaitoniyah, kesombongan dan menganggap orang lain hina atau rendah. Inilah muasalnya untuk menjadi pemenang.
Anak : apa hubungannya dengan "sing waras ngalah ayah!
Ayah: jelas mereka tidak menjadikan akal dan hati sebagai senjata bahkan keduanya sering dilupakan. Maka tentu menjadi tidak waras atau tidak berakal.
Anak: jadi sing waras itu mereka yang mau berpikir jernih mengakui keberadaan orang lain , pendapatnya dihormati walau menurut dirinya tidak memiliki makna
Ayah : lha, wis ngerti toh.... tanpa ada yang berasa waras, tidak akan berkesudahan apapun itu kegiatannya.
Memang, kegilaan harus dilawan dan diimbangi dengan sikap gila.
Gila yang waras hanya bisa diperankan oleh orang yang istimewa pake telurπππ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar