MENGEMUDIKAN DIRI SENDIRI
Mengemudikan Diri Sendiri
Tono mahasiswa di salah satu perguruan tinggi ternama di kota Jakarta sedang mudik menikmati liburan, maklum tahun ajaran baru sedang ada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Universitas (PKKMU). Di kampungnya Tono punya teman satu almamater waktu di SLTA bernama Wawan kuliah di kota Malang. Sabtu pagi kedua mahasiswa asli kota pisang ini naik motor menuju Malang.
Awalnya Wawan
mengemudikan motornya dengan cepat, gesit dan selalu menambahkan
tarikan gas setiap hendak mendahului. Tampaknya Tono tidak begitu nyaman
menduduki jok belakang, karenanya usai motor diisi BBM di SPBU Tono langsung
menawarkan diri menjadi pengemudi. Apa yang terjadi Tono lebih kencang menarik
gas dan mendahului mobil, truk dan bis pada posisi yang sangat sempit
Sesampai di rumah
kost, wawan dan Tono berbincang tentang perjalanannya, “wah gila kamu Ton, naik
motor kayak pembalap” ujar Wawan. Padahal aku ini termasuk tukang ngebut,
tambah Wawan. “aku sendiri heran” jawab Tono, “kalau dibonceng selalu was-was,
lebih senang kalau menyetir” ujar Tono, “oooo gitu, sama
dong sebenarnya aku juga tidak suka dibonceng” timpal
Wawan
Locus Of Control
Wawan
dan Tono sedang berebut posisi, yaitu posisi pengendali. Berkaitan dengan
posisi diri dalam psikologi terdapat istilah Locus of Control, Locus yang
berasal dari bahasa Latin memiliki arti posisi, sedangkan Control bisa
diartikan pengendalian atau pengaturan. Dalam buku Psikologi Lintas Budaya yang
ditulis oleh Tri Dayakisni dan Salis Yuniardi menyebutkan bahwa Locus Of
Control adalah sebuah konsep yang dibangun oleh Rotter yang menyatakan bahwa
setiap orang berbeda dalam bagaimana dan seberapa besar control diri mereka terhadap
perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain serta lingkungan. Suatu konsep
yang pada awalnya diambil dari teori belajar sosial yang mendudukkan penguat
(reinforcement) pada suatu posisi inti. Diyakini sejarah belajar individu dapat
penggiringnya pada generalisasi pengharapan dan keyakinan tentang penguat.
Orang dapat memandang suatu imbalan hasil (baik posisitif seperti kesuksesan
maupun yang negative seperti kegagalan) sebagai hal yang tergantung pada
perilakunya sendiri atau bergantung pada kekuatan-kekuatan di luar kendalinya
Locus of Control kepribadian umumnya dibedakan menjadi dua berdasarkan arahnya, yaitu internal dan eksternal. Seseorang dengan locus of Control eksternal melihat nasib dirinya sangat ditentukan oleh bagaimana lingkungan dan orang lain melihat dirinya. Sebagai contoh seseorang dengan locus of control eksternal ketika mendapat keberhasilan dalam suatu ujian akan berkeyakinan bahwa kesuksesannya lebih disebabkan keberuntungan, soal yang mudah, atau kebaikan sang guru. Sedangkan locus of control internal melihat independency yang besar dalm kehidupan di mana hidupnya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri
Posisi diri dan
depresi
Hasil penelitian yang
dilakukan oleh beberapa peneliti menemukan bahwa individu yang memiliki locus
of control internal cenderung memiliki usaha yang lebih aktif untuk
mencapai tujuannya, lebih ulet dalam mencari informasi, lebih siap atau waspada
pada keadaan dan kondisi di sekitarnya, lebih mandiri dalam membuat suatu
keputusan, dan memiliki sense of well being yang lebih baik.
Sedangkan individu yang memiliki locus of control eksternal, kurang
dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat menyebabkan
timbulnya stres, merasa cemas, dan lebih sering mengalami depresi ( Vega Lesmana Blog).
Masyarakat Eropa
sebagai pengendali kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menurut hasil
penelitian Matsumoto disebabkan mayoritas
penduduknya memiliki locus of control internal yang mengedepankan
rasionalitas, mereka yakin bahwa prestasi kerja atau kesuksesan sangat
ditentukan oleh kapabilitas dan kerja keras. Sedangkan orang Asia
termasuk di dalamnya bangsa Indonesia mayoritas pendudukanya memiliki locus of
control eksternal memandang suatu keberhasilan sangat dipengaruhi oleh dukungan
orang lain ataupun lingkungan
Literature Amerika
menjelaskan bahwa pribadi-pribadi dengan locus of control eksternal tampak
lebih sering mengeluh, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, namun lebih
kompromi ketika menghadapi konflik. Sedangkan pribadi dengan locus of control
internal lebih menitik beratkan kepada penilaian dirinya sendiri dan siap
menghadapi kenyataan apapun dan selalu bertanggung jawab atas apa saja yang
dilakukan
Pegang Kendali Diri
Anda
Wawan
dan Tono adalah gambaran pribadi dengan locus of control internal yang tidak
suka mengekor, dikendalikan hidupnya oleh orang lain yang mengakibatkan was-was
dan tidak menentu. Menjadi pengemudi atas diri sendiri adalah menyenangkan,
bisa memperkirakan posisi ketika berada di tikungan, bisa menata amarah ketika
di depan banyak hambatan dan mudah mencari solusi ketika tujuan belum tercapai
serta mendahului kendaraan lain secara tepat meskipun dalam posisi sulit
Masing-masing
individu akan mendapatkan atas apa yang diusahakan atau yang dikerjakan,
perubahan seseorang sangat bergantung dari niat seseorang itu sendiri. Keadaaan
yang sulit atau keadaan yang menyenangkan tidak begitu berarti bila seseorang
tidak bisa memaknainya dengan tepat. Jadilah memrakarsa atas apa saja, sehingga
anda yang mengendalikannya
Orang-orang
sukses dalam berbagai bidang adalah mereka yang mampu mengubah lingkungannya
menjadi lebih baik, selalu berinovasi dan terus berkreasi, mengutamakan karya
daripada membicaran orang lain. Kendali diri tidak harus menjadi terdepan atau
yang memimpin, kendali diri adalah mampu memerankan diri sendiri atas kemauan
baik kita sesuai dengan posisi.
siip
BalasHapus