Minggu, 30 Mei 2021

MENGEMUDIKAN DIRI SENDIRI

 MENGEMUDIKAN DIRI SENDIRI

Mengemudikan Diri Sendiri
Tono mahasiswa di salah satu perguruan tinggi ternama di kota Jakarta sedang mudik menikmati liburan, maklum  tahun ajaran baru sedang ada  kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Universitas (PKKMU). Di kampungnya  Tono punya teman satu almamater waktu di SLTA bernama Wawan kuliah di kota Malang. Sabtu pagi kedua mahasiswa asli kota pisang ini naik motor menuju Malang.

Awalnya Wawan mengemudikan motornya  dengan cepat, gesit dan selalu menambahkan tarikan gas setiap hendak mendahului. Tampaknya Tono tidak begitu nyaman menduduki jok belakang, karenanya usai motor diisi BBM di SPBU Tono langsung menawarkan diri menjadi pengemudi. Apa yang terjadi Tono lebih kencang menarik gas dan mendahului mobil, truk dan bis pada posisi yang sangat sempit

Sesampai di rumah kost, wawan dan Tono berbincang tentang perjalanannya, “wah gila kamu Ton, naik motor kayak pembalap” ujar Wawan. Padahal aku ini termasuk tukang ngebut, tambah Wawan. “aku sendiri heran” jawab Tono, “kalau dibonceng selalu was-was, lebih senang kalau menyetir” ujar Tono, “oooo gitu, sama dong  sebenarnya aku juga tidak suka dibonceng” timpal Wawan  

 https://www.youtube.com/watch?v=9RGrwglYgEs

Locus Of Control

            Wawan dan Tono sedang berebut posisi, yaitu posisi pengendali. Berkaitan dengan posisi diri dalam psikologi terdapat istilah Locus of Control, Locus yang berasal dari bahasa Latin memiliki arti posisi, sedangkan Control bisa diartikan pengendalian atau pengaturan. Dalam buku Psikologi Lintas Budaya yang ditulis oleh Tri Dayakisni dan Salis Yuniardi menyebutkan bahwa Locus Of Control adalah sebuah konsep yang dibangun oleh Rotter yang menyatakan bahwa setiap orang berbeda dalam bagaimana dan seberapa besar control diri mereka terhadap perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain serta lingkungan. Suatu konsep yang pada awalnya diambil dari teori belajar sosial yang mendudukkan penguat (reinforcement) pada suatu posisi inti. Diyakini sejarah belajar individu dapat penggiringnya pada generalisasi pengharapan dan keyakinan tentang penguat. Orang dapat memandang suatu imbalan hasil (baik posisitif seperti kesuksesan maupun yang negative seperti kegagalan) sebagai hal yang tergantung pada perilakunya sendiri atau bergantung pada kekuatan-kekuatan di luar kendalinya

            Locus of Control kepribadian umumnya dibedakan menjadi dua berdasarkan arahnya, yaitu internal dan eksternal. Seseorang dengan locus of Control eksternal melihat nasib dirinya sangat ditentukan oleh bagaimana lingkungan dan orang lain melihat dirinya. Sebagai contoh seseorang dengan locus of control eksternal ketika mendapat keberhasilan dalam suatu ujian akan berkeyakinan bahwa kesuksesannya lebih disebabkan keberuntungan, soal yang mudah, atau kebaikan sang guru. Sedangkan locus of control internal melihat independency yang besar dalm kehidupan di mana hidupnya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri  


Posisi diri dan depresi

Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti menemukan bahwa individu yang memiliki locus of control internal cenderung  memiliki usaha yang lebih aktif untuk mencapai tujuannya, lebih ulet dalam mencari informasi, lebih siap atau waspada pada keadaan dan kondisi di sekitarnya, lebih mandiri dalam membuat suatu keputusan, dan memiliki sense of well being yang lebih baik. Sedangkan individu yang memiliki locus of control  eksternal, kurang dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat menyebabkan timbulnya stres, merasa cemas, dan lebih sering mengalami depresi ( Vega Lesmana Blog).

Masyarakat Eropa sebagai pengendali kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menurut hasil penelitian Matsumoto disebabkan  mayoritas penduduknya  memiliki locus of control internal yang mengedepankan rasionalitas, mereka yakin bahwa prestasi kerja atau kesuksesan sangat ditentukan oleh kapabilitas dan kerja keras. Sedangkan  orang Asia termasuk di dalamnya bangsa Indonesia mayoritas pendudukanya memiliki locus of control eksternal memandang suatu keberhasilan sangat dipengaruhi oleh dukungan orang lain ataupun lingkungan

Literature Amerika menjelaskan bahwa pribadi-pribadi dengan locus of control eksternal tampak lebih sering mengeluh, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, namun lebih kompromi ketika menghadapi konflik. Sedangkan pribadi dengan locus of control internal lebih menitik beratkan kepada penilaian dirinya sendiri dan siap menghadapi kenyataan apapun dan selalu bertanggung jawab atas apa saja yang dilakukan    

Pegang Kendali Diri Anda

            Wawan dan Tono adalah gambaran pribadi dengan locus of control internal yang tidak suka mengekor, dikendalikan hidupnya oleh orang lain yang mengakibatkan was-was dan tidak menentu. Menjadi pengemudi atas diri sendiri adalah menyenangkan, bisa memperkirakan posisi ketika berada di tikungan, bisa menata amarah ketika di depan banyak hambatan dan mudah mencari solusi ketika tujuan belum tercapai serta mendahului kendaraan lain secara tepat meskipun dalam posisi sulit

            Masing-masing individu akan mendapatkan atas apa yang diusahakan atau yang dikerjakan, perubahan seseorang sangat bergantung dari niat seseorang itu sendiri. Keadaaan yang sulit atau keadaan yang menyenangkan tidak begitu berarti bila seseorang tidak bisa memaknainya dengan tepat. Jadilah memrakarsa atas apa saja, sehingga anda yang mengendalikannya

            Orang-orang sukses dalam berbagai bidang adalah mereka yang mampu mengubah lingkungannya menjadi lebih baik, selalu berinovasi dan terus berkreasi, mengutamakan karya daripada membicaran orang lain. Kendali diri tidak harus menjadi terdepan atau yang memimpin, kendali diri adalah mampu memerankan diri sendiri atas kemauan baik kita sesuai dengan posisi.

 

1 komentar: