Senin, 24 Mei 2021

UNAS BUKAN TUJUAN AKHIR PENDIDIKAN

 

UNAS BUKAN TUJUAN AKHIR PENDIDIKAN
Oleh : Hamim Thohari Majdi

Tulisan ini telah dimuat di Tabloit Cendekia, Lumajang 2008)



Ha Mim Co

Ujian Nasional yang disingkat UNAS adalah salah satu ujian akhir yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam memahami (menyerap) hasil belajar di setiap jenjang mulai SD, SMP dan SMA dan dijadikan standar penentuan kelulusan, sehingga UNAS merupakan palang pintu yang harus dilewati oleh setiap siswa dengan menggunakan karcis standar kelulusan yang ditentukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan
Sebagai palang pintu kelulusan, UNAS telah menjadi salah satu bagian penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan bahkan ada yang menempatkan UNAS menjadi peristiwa sakral melebihi dari kegiatan pembelajaran secara rutin, sehingga membuat peta mental para pihak yang terkait dengan pendidikan menjadi gelisah karena ada kaitannya dengan pencitraan dan masa depan
Sejatinya pelaku UNAS adalah siswa, siswalah yang akan menentukan nasibnya sendiri dan hasilnya sangat bergantung pada tingkat juangnya, sehingga ketika UNAS berlangsung, sebagai subyeknya adalah siswa dan obyeknya adalah soal, agar fair play bisa ditegakkan maka dihadirkan pengawas untuk memantau dan mengendalikan jalannya UNAS dengan harapan pelaksanaan UNAS berjalan tertib, aman terkendali
Pada prakteknya hasil UNAS ternyata bukan saja menjadi potret keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran, tetapi hasil UNAS juga menjadi tolok ukur keberhasilan guru dalam melaksanakan KBM, dan mantapnya manajemen sekolah, serta tingginya kepedulian dinas pendidikan dan pemerintah dalam mensukseskan program pencedrdasan anak bangsa
Hal tersebut menambah beratnya beban siswa, di satu sisi siswa harus mampu menuangkan hasil belajar selama di sekolah dan harus lulus, pada sisi yang lain siswa harus mampu mengangkat citra sekolah dengan cara mendapatkan nilai yang memuaskan

Seribu cara
Untuk bisa lulus dan mendapat nilai yang memuaskan dibutuhkan strategi khusus, ada yang bersifat alamiah bertahap dan ada yang bersifat instan, bahkan ada yang menggunakan cara-cara di luar etika pendidikan
Cara alamiah bertahap adalah cara yang lazim digunakan dalam prosedur dan proses kegiatan belajar mengajar yaitu menuntaskan setiap kompetensi dasar (KD) berdasarkan tahapan atau waktu yang ditentukan atau dengan kata lain siswa mendapat pengetahuan dan mampu menyerap berdasarkan tingkatan sekolahnya dan sesuai jadwal, sehingga pengetahuan yang diperoleh di bangku sekolah dapat dituangkan dalam siatuasi apapun dan siap setiap saat ketika dibutuhkan, cara ini biasanya dilakukan oleh sekolah-sekolah yang mengandalkan mutu dan berpijak kepada proses dengan motto tidak ada hasil yang baik tanpa usaha yang baik, dan sebenarnya inilah proses pembelajaran yang sesungguhnya
Bagi sekolah yang orientasi kepada hasil, sering melupakan proses, dan mengabaikan prinsip berakit-rakit kehulu berenang ketepian, ingin mendapat hasil yang baik tetapi tidak dibarengi dengan perbaikan kualitas proses belajar mengajar, sehingga jurus yang dipakai adalah bagaimana materi UNAS yang semestinya dituntaskan selama 6 tahun bagi SD dan 3 tahun bagi SMP dan SMA diselesaikan setahun bahkan ada yang hanya 2 bulan

Siapakah golongan yang tidak mendapatkan ampunan, simak di bawah ini

https://www.youtube.com/watch?v=9RGrwglYgEs


Bila kita ibaratkan ilmu itu air dan otak manusia adalah bejana, maka ketika waktu tuang yang kita butuhkan tiga jam dan ternyata kita menuang dengan waktu yang lebih cepat, maka dapatlah ditebak semestinya seluruh air yang dituang masuk ke dalam bejana, namun karena derasnya tuangan mengakibatkan banyak percikan-percian air yang membasahi bejana, sehingga kita melakukan pekerjaan muspro (sia-sia), artinya pembelajaran instan dengan prinsip menghabiskan materi pembelajaran berdampak pada hasil yang diperoleh, sehingga ikatan emosional siswa dengan ilmu yang diperoleh tidak begitu mesra
Penggunaan cara instan meskipun ada dampak, masih patut untuk mendapatkan apresiasi, karena usahanya masih dalam koridor etika pembelajaran. Akan tetapi yang tidak patut dilestarikan adalah cara-cara yang keluar dari etika pembelajaran dan bahkan bertentangan dengan tujuan pokok pendidikan itu sendiri
Ditengarai ada beberapa sekolah yang berprinsip pokoknya lulus, tanpa dibarengi dengan usaha yang sportif, di luar etika pembelajaran di antaranya penempatan tutor sebaya, yaitu anak-anak yang dianggap mampu disebar di beberapa tempat dan diberi tugas untuk membantu menyebar jawaban kepada teman asuhnya, ada juga karena kebaikan guru sehingga guru meringankan tugas murid dengan cara memberi jawaban kepada para siswanya
Namun pada belakangan ini cara yang keluar dari etika pendidikan sudah jarang ditemukan atau tidak lagi diminati, karena sudah teruji bahwa cara-cara yang salah akan melukai nilai-nilai pendidikan terlebih yang melakukan adalah guru yang semestinya menjadi teladan kebaikan sebagaimana pesan-pesannya dalam setiap kesempatan

Ha Mim Co


Situasikan Kondusif
Setiap permasalahan menjadi penting, biasa atau tidak bermakna sangat bergantung bagaimana sikap kita menghadapi masalah, masalah biasa bila kita sikapi serius maka masalah itu menjadi gawat sehingga sulit mencari jalan keluarnya, sebaliknya masalah serius tetapi kita hadapi dengan tenang dan menganggap biasa-biasa saja, maka dengan mudah masalah itu bisa diselesaikan
Dalam kondisi gawat darurat mental kita menjadi kacau, otak kita ngadat dan seakan-akan seluruh jalan buntu dan lingkungan menjadi tidak bersahabat. Akan tetapi bila diri kita tenang, rileks dan mampu menerima masalah yang ada, maka dengan sendirinya otak bekerja mencarikan jalan keluar, lingkungan menyapa kita dengan penuh persahabatan dan waktu membantu kita untuk segera keluar dari permasalahan
Bila kita melihat suasana tempat diselenggarannya UNAS banyak pesan-pesan baik yang terucap maupun yang tertulis yang intinya berbunyi “Harap Tenang Ada Ujian”, kalimat ini membawa kepada alam jiwa kita hanyut dan larut dalam kesunyian, keheningan dan seakan-akan suasana duka. Kondisi ini sebenarnya tidak begitu bagus, karena dengan suasana yang tenang (sunyi) membuat otak tidak dapat bekerja maksimal terlebih bagi anak-anak yang biasa belajar dengan didampingi musik
Perlu ada langkah berani dalam membuat kondisi dan suasana UNAS yang menyenangkan, yang membuat para peserta nyaman dan tidak tertekan, cara tersebut bisa dengan memutar instrument-instrumen yang membangkitkan kerja otak kanan, atau pemberian motivasi setiap (jeda) antar materi ujian. Dengan catatan bila ada pemberian motivasi harus dilakukan oleh gurunya sendiri, karena anak-anak biasanya lebih mendengarkan kata-kata gurunya sendiri dari pada orang lain yang dianggap asing

Pertahankan sistem
Sistem pendidikan kita meski belum bisa dikatakan sempurna, akan tetapi sistem yang ada sudah memenuhi kriteria minimal dalam melaksanakan proses dan kegiatan pendidikan. Terlebih dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Tentang Standar Nasional Pendidikan sebagai salah satu petunjuk aplikatif dalam menjabarkan keinginan yang ada dalam Undang-Undang sistem pendidikan nasional
Minimal ada tiga standart yang ada kaitan langsung sedang sitem yang mengarah kepada pelaksanaan UNAS yaitu; pertama standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan yang memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kalender pendidikan
Kedua, standar proses dihaarapkan proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik

Ha Mim Co


Standar proses juga memuat tentang perencanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efesien
Ketiga, standar kompetensi lulusan yang digunakan sebagai pedoman penilaian dan penentuan kelulusan dari seluruh mata pelajaran meliputi aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilannya
Dengan tidak menafikan lima standar lainnya yang tertuang dalam Standar Pendidikan Nasional, tiga standar di atas merupakan tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam rangka menuntaskan pembelajaran. Artinya dengan mematuhi standar yang ada logikanya siswa sudah kompeten terhadap materi yang diajarkan dan siap diuji setia saat tanpa membutuhkan pengulangan materi, dan bila terpaksa diperlukan untuk mempertajam daya serap dapat dilakukan penyegaran dan penderasan terhadap materi-materi tertentu khusunya yang akan di-UNAS-kan
Dan perlu diingat bahwa materi yang di-UNAS-kan sudah ada kisi-kisinya, sehingga guru hanya melakukan refreshing terhadap materi-materi tertentu yang ada dalam kisi-kisi soal UNAS, bukan seluruh materi mulai kelas awal hingga kelas akhir yang justru akan menyumbat memori siswa karena banyaknya materi yang harsu diingat

UNAS Bukan Segala
Sudah menjadi budaya bangsa kita yaitu lebih senang membuat perencanaan dan pelaksanaannya tetapi menjauhi evaluasi, karena ada rasa kekhawatiran pekerjaannya dinilai kurang maksimal, bangsa kita lebih senang disanjung walaupun kenyataannya sebaliknya, dan sangat menghindari kritik atau saran dari orang lain meskipun untuk kebaikan
Karenanya patut disadari bahwa UNAS bukanlah tujuan akhir penyelenggaraan pendidikan, tetapi merupakan alat untuk mengukur tingkat keseriusan penyelenggaraan, sehingga sangat dibutuhkan ketaatan pelaksanaan standar yang ada agar tidak memunculkan kekhawatiran yang berlebihan dan sikap yang membabi buta dan menjadikan UNAS segala-galanya, tetapi juga jangan meremehkan UNAS, karena berakibat segalanya tanpa makna

 Hamim Thohari Majdi

Ha Mim Co 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar