UNAS YANG MENGGEMBIRAKAN
Menyongsong UASBN SD 11 Mei 2009
Oleh : Hamim Thohari Majdi
Unas yang menggembirakanUNAS - Ha Mim Co
Ujian akhir sekolah hingga kini masih banyak menyisakan masalah, baik dari sisi
regulasi, penetapan standart kelulusan, sakralisasi nilai hingga prestise bagi
siswa, guru, sekolah dan wali murid, dan tidak kalah penting lagi adalah
masalah psikologis
Setiap menjelang ujian nasional (unas), semua sekolah seolah siaga satu. Tidak
seperti siaga satu menghadapi bencana, memang. Namun dampak Unas hampir sama
dengan bencana nasional, sama-sama bikin stres. Menjelang Unas, peningkatan
tekanan psikologis dialami oleh kepala sekolah (kasek), guru, siswa, bahkan
orang tua (Jidi dalam Jawa Pos 22-01-2009)
Tulisan ini berusaha mengurai masalah psikologis yang muncul dari Unas yaitu
kecemasan yang dihadapi oleh siswa, guru, wali murid dan pihak-pihak terkait
dalam rangka mengongsong Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) SD
yang akan dihelat mulai tanggal 11 Mei 2009, sehingga terwujud suasana Unas
yang menggembirakan
Kecemasan
Dalam kajian psikologi rasa cemas (khawatir dan stress) adalah hal yang lumrah
dialami oleh seseorang ketika sedang menghadapi Ujian Nasional. Hurlock (1991)
mendefinisikan kecemasan sebagai suatu pikiran yang menggambarkan keadaan yang
tidak menyenangkan pada masa yang akan datang atau mengantisipasi rasa sakit
yang lebih banyak ditimbulkan oleh stimulasi diri sendiri, padahal yang
dicemaskan belum tentu terjadi, seorang pencemas selalu khawatir dan takut.
Bila ditinjau secara individual atas munculnya kecemasan, Sharkey (dalam
Gunarsa : 1996) menyebutkan beberapa sumber yang dapat menimbulkan kecemasan
individu yaitu :
a. Tuntutan sosial yang berlebihan yang belum atau tidak dapat dipenuhi oleh
individu, dan tuntutan sosial ini dapat merupakan perasaan subyektif dari
individu yang mungkin tidak dirasakan oleh orang lain
b. Adanya standar prestasi yang terlalu tingggi bagi kemampuan yang dimiliki
individu, sehingga memunculkan perasaan rendah diri dan kecenderungan
perfeksionis
c. Individu kurang siap dalam menghadapi suatu situasi atau keadaan
d. Adanya pola berpikir dan persepsi yang negatif terhadap situasi atau diri
sendiri dan hal-hal di sekitarnya
Mengapa harus bersurat kepada Allah, simak
https://www.youtube.com/watch?v=bOYg3wemKcU&t=190s
Kecemasan yang menghinggapi pihak-pihak terkait dengan Unas lebih pada tuntutan
sosial (gengsi/prestise) dan kurangnya rasa percaya diri. Tuntutan sosial mengarah
kepada atribusi untuk mewujudkan siswa yang berprestasi, guru yang sukses,
kepala sekolah yang mampu memenej, orang tua yang berhasil, naiknya rangking
pendidikan, dan terhindar dari stigma pecundang
Mengelola Kecemasan
Kecemasan yang muncul sewaktu ujian dipelajari secara ilmiah untuk pertama
kalinya pada tahun 1960-an oleh Ricard Alpert, dari hasil penelitian ditemukan
ada kecemasan yang menurunkan kemampuan dan kecemasan yang mampu meningkatkan
belajar dengan baik meskipun mengalami stres
Apabila siswa disibukkan oleh kecemasan akan gagal dalam ujian, perhatian siswa
untuk menyusun jawaban akan berkurang. Setara dengan kekhawatiran, kecemasan
menjadi ramalan yang terbukti mendorong kearah yang dicemaskan, kecemasan
menganggu kejernihan mental yang amat penting untuk mengatasi ujian
Menurut Goleman (1995) bila rasa takut memicu otak emosional, bagian dari rasa
cemas yang muncul akan memusatkan perhatian pada ancaman yang sedang dihadapi
memaksa pikiran untuk terus-menerus memikirkan bagaimana mengatasi permasalahan
yang ada dan mengabaikan hal-hal lain sementara waktu, sehingga kecemasan dapat
memotivasi mempersiapkan diri dengan belajar lebih keras untuk sukses
menghadapi ujian
Mengelola kecemasan berarti mengelola emosi dan kognisi, suasana hati yang
bahagia dapat memperkuat kemampuan untuk berpikir dengan fleksibel. pikiran
menentukan tindakan, Menurut Schwartz (2006) pemikiran yang membuat sesuatu
terjadi. Orang yang berpikir lemah, meski apapun kualifikasi yang sesungguhnya
yang dimiliki menjadi lemah.
Untuk itu para pendidik dan orang tua perlu menghembuskan semangat sang juara
kepada para siswa, percaya kepada kemampuan yang dimilik dan optimisme yang
tinggi, dengan demikian para siswa merasa mendapat dukungan moral yang luar
biasa, dan mendapat kepercayaan bahwa dirinya layak untuk dipercaya, pada
akhirnya siswa akan berjuang semaksimal mungkin untuk mempersembahkan yang
terbaik
Inkubasi
Ada istilah yang sangat ramah di telinga kita terkait dengan situaasi pra Unas
yaitu minggu tenang, dalam kajian psikologi kognitif minggu tenang disebut
inkubasi, yaitu istilah yang menunjuk pada suatu periode waktu ketika seseorang
berhenti memikirkan (break out) suatu masalah untuk sementara waktu, sehingga
memberi kesempatan pikiran bawah sadar bekerja (Suharnan, 2005)
Terdapat banyak bukti, bahwa alam bawah sadar merupakan mata rantai yang
menghubungkan antara jalan pikiran yang terbatas dengan intelegensia yang tak
terbatas. Alam bawah sadar merupakan perantara rahasia yang melalui suatu
proses bisa mengubah rangsangan mental menjadi unsu-unsur yang mengandung nilai
rohani. Hanya melalui alam bawah sadar saja do’a dapat terwujud oleh karena
dapat menyentuh langsung sumber alam kekuatan yang tak terbatas, sehingga do’a
dapat terkabulkan (Hill, 1981)
Untuk menjadikan Unas yang menggembirakan dibutuhkan suasana sekolah dan rumah
yang menggembirakan, puji anak-anak dengan kebaikannya, hindari menyebut
kejelekan dan kelemahannya, beri motivasi dan tebarkan senyum, serta do’akan
mereka, selamat berjuang anakku semoga Allah menolong atas usahamu dan sukses
menyertai hidupmu
Hamim Thohari Majdi adalah direktur Lemdik Al-Ikhlash Lumajang
sedang mengikuti Program Magister Psikologi Untag Surabaya
===========
tulisan ini diunggah kembali untuk mengingat sejarah pendidikan di negera kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar