Senin, 24 Mei 2021

UNAS YANG MENGGEMBIRAKAN

 

UNAS YANG MENGGEMBIRAKAN
Menyongsong UASBN SD 11 Mei 2009
Oleh : Hamim Thohari Majdi

 

UNAS - Ha Mim Co
 Unas yang menggembirakan
Ujian akhir sekolah hingga kini masih banyak menyisakan masalah, baik dari sisi regulasi, penetapan standart kelulusan, sakralisasi nilai hingga prestise bagi siswa, guru, sekolah dan wali murid, dan tidak kalah penting lagi adalah masalah psikologis

Setiap menjelang ujian nasional (unas), semua sekolah seolah siaga satu. Tidak seperti siaga satu menghadapi bencana, memang. Namun dampak Unas hampir sama dengan bencana nasional, sama-sama bikin stres. Menjelang Unas, peningkatan tekanan psikologis dialami oleh kepala sekolah (kasek), guru, siswa, bahkan orang tua (Jidi dalam Jawa Pos 22-01-2009)

Tulisan ini berusaha mengurai masalah psikologis yang muncul dari Unas yaitu kecemasan yang dihadapi oleh siswa, guru, wali murid dan pihak-pihak terkait dalam rangka mengongsong Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) SD yang akan dihelat mulai tanggal 11 Mei 2009, sehingga terwujud suasana Unas yang menggembirakan
Kecemasan
Dalam kajian psikologi rasa cemas (khawatir dan stress) adalah hal yang lumrah dialami oleh seseorang ketika sedang menghadapi Ujian Nasional. Hurlock (1991) mendefinisikan kecemasan sebagai suatu pikiran yang menggambarkan keadaan yang tidak menyenangkan pada masa yang akan datang atau mengantisipasi rasa sakit yang lebih banyak ditimbulkan oleh stimulasi diri sendiri, padahal yang dicemaskan belum tentu terjadi, seorang pencemas selalu khawatir dan takut.

Bila ditinjau secara individual atas munculnya kecemasan, Sharkey (dalam Gunarsa : 1996) menyebutkan beberapa sumber yang dapat menimbulkan kecemasan individu yaitu :
a. Tuntutan sosial yang berlebihan yang belum atau tidak dapat dipenuhi oleh individu, dan tuntutan sosial ini dapat merupakan perasaan subyektif dari individu yang mungkin tidak dirasakan oleh orang lain
b. Adanya standar prestasi yang terlalu tingggi bagi kemampuan yang dimiliki individu, sehingga memunculkan perasaan rendah diri dan kecenderungan perfeksionis
c. Individu kurang siap dalam menghadapi suatu situasi atau keadaan
d. Adanya pola berpikir dan persepsi yang negatif terhadap situasi atau diri sendiri dan hal-hal di sekitarnya

Mengapa harus bersurat kepada Allah, simak

https://www.youtube.com/watch?v=bOYg3wemKcU&t=190s

Kecemasan yang menghinggapi pihak-pihak terkait dengan Unas lebih pada tuntutan sosial (gengsi/prestise) dan kurangnya rasa percaya diri. Tuntutan sosial mengarah kepada atribusi untuk mewujudkan siswa yang berprestasi, guru yang sukses, kepala sekolah yang mampu memenej, orang tua yang berhasil, naiknya rangking pendidikan, dan terhindar dari stigma pecundang
Mengelola Kecemasan
Kecemasan yang muncul sewaktu ujian dipelajari secara ilmiah untuk pertama kalinya pada tahun 1960-an oleh Ricard Alpert, dari hasil penelitian ditemukan ada kecemasan yang menurunkan kemampuan dan kecemasan yang mampu meningkatkan belajar dengan baik meskipun mengalami stres
Apabila siswa disibukkan oleh kecemasan akan gagal dalam ujian, perhatian siswa untuk menyusun jawaban akan berkurang. Setara dengan kekhawatiran, kecemasan menjadi ramalan yang terbukti mendorong kearah yang dicemaskan, kecemasan menganggu kejernihan mental yang amat penting untuk mengatasi ujian

Menurut Goleman (1995) bila rasa takut memicu otak emosional, bagian dari rasa cemas yang muncul akan memusatkan perhatian pada ancaman yang sedang dihadapi memaksa pikiran untuk terus-menerus memikirkan bagaimana mengatasi permasalahan yang ada dan mengabaikan hal-hal lain sementara waktu, sehingga kecemasan dapat memotivasi mempersiapkan diri dengan belajar lebih keras untuk sukses menghadapi ujian

Mengelola kecemasan berarti mengelola emosi dan kognisi, suasana hati yang bahagia dapat memperkuat kemampuan untuk berpikir dengan fleksibel. pikiran menentukan tindakan, Menurut Schwartz (2006) pemikiran yang membuat sesuatu terjadi. Orang yang berpikir lemah, meski apapun kualifikasi yang sesungguhnya yang dimiliki menjadi lemah.
Untuk itu para pendidik dan orang tua perlu menghembuskan semangat sang juara kepada para siswa, percaya kepada kemampuan yang dimilik dan optimisme yang tinggi, dengan demikian para siswa merasa mendapat dukungan moral yang luar biasa, dan mendapat kepercayaan bahwa dirinya layak untuk dipercaya, pada akhirnya siswa akan berjuang semaksimal mungkin untuk mempersembahkan yang terbaik
Inkubasi
Ada istilah yang sangat ramah di telinga kita terkait dengan situaasi pra Unas yaitu minggu tenang, dalam kajian psikologi kognitif minggu tenang disebut inkubasi, yaitu istilah yang menunjuk pada suatu periode waktu ketika seseorang berhenti memikirkan (break out) suatu masalah untuk sementara waktu, sehingga memberi kesempatan pikiran bawah sadar bekerja (Suharnan, 2005)
Terdapat banyak bukti, bahwa alam bawah sadar merupakan mata rantai yang menghubungkan antara jalan pikiran yang terbatas dengan intelegensia yang tak terbatas. Alam bawah sadar merupakan perantara rahasia yang melalui suatu proses bisa mengubah rangsangan mental menjadi unsu-unsur yang mengandung nilai rohani. Hanya melalui alam bawah sadar saja do’a dapat terwujud oleh karena dapat menyentuh langsung sumber alam kekuatan yang tak terbatas, sehingga do’a dapat terkabulkan (Hill, 1981)
Untuk menjadikan Unas yang menggembirakan dibutuhkan suasana sekolah dan rumah yang menggembirakan, puji anak-anak dengan kebaikannya, hindari menyebut kejelekan dan kelemahannya, beri motivasi dan tebarkan senyum, serta do’akan mereka, selamat berjuang anakku semoga Allah menolong atas usahamu dan sukses menyertai hidupmu
Hamim Thohari Majdi adalah direktur Lemdik Al-Ikhlash Lumajang
sedang mengikuti Program Magister Psikologi Untag Surabaya

===========

tulisan ini diunggah kembali untuk mengingat sejarah pendidikan di negera kita

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar