Suka duka bercinta, yang dimabuk cinta selalu memasang strategi bagaimana sang pujaan hati tetap mengimbangi dan menjawab cinta yang diharapkan. Seiring dengan sikap fluktuatif yang ada dalam diri manusia, maka cinta mengalami pasang surut yang berasal dari kedua belah pihak. Orang yang dicintai tiba-tiba tidak memberi respon sama sekali, cuek atau abai. Suatu waktu yang mencintai terasa kendor karena padatnya aktivitas lain, hingga tidak bisa menyempatkan diri memberi perhatian kepada yangbdicintai.
Ada benci sebagai bumbu dalam bercinta. Entah faktual atau bersifat hayal. Sehingga mengambat komunikasi, bahkan muncul cacian dan hinaan. Kebencian muncul karena berkurangnya perhatian yanag disebabkan oleh berubahnya fokus.
Siswa sebagai pihak yang dicinta, ingin selalu mendapatkan perhatian prima sementara guru memiliki banyak tanggung jawab, sehingga harus profesional dalam berbagi. Siswa tidak mau tahu apa yang akan dikerjakan selaib mengurus dirinya. Sehingga banyak cara yang dilakukan siswa untuk meraih perhatian yang dirasakan berkurang.
Bila ada siswa melakukan hal di luar kewajaran, maka guru harus tanggap, bahwa siswanya sedang kehilangan kadar cinta dalam diri. Untuk mengembalikannya dengan cara berbuat "ulah". Tidak banyak guru yang menyadari kondisi ini, akibatnya banyak guru yang menggunakan jurus maut, bagaimana caranya agar sang siswa diam dan berhenti berulah. Maka di sinilah saat -saat pengikisan cinta dimulai.
Guru harus mampu menghadirkan rindu dalam proses kegiatan belajar mengajar. Siswa merindukan pertemuan untuk menuntaskan materi, guru merasa rindu karena ingin menyajikan menu terbaik. Suasana inilah yang memungkinkan keduanya menyelaraskan hati membuka diri saling memberi dan siap menerima.
Adakah yang lebih indah saat bercinta? Kecuali yang mencintai dan yang dicintai adalah dalam satu garis untuk melangkah meraih tujuan
===================
Hamim Thohari Majdi
Ha Mim Co
Suka duka bercinta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar