Si cantik dan buruk rupa. Seperti judul sinetron gubahan dari film luar berjudul beauty and the beast. Seorang bocah yang dibuang orang tuanya ke hutan karena keburukan rupa dan postur tubuhnya. Ceritanya cukup sampai di sini saja, sebab yang mau dibahas adalah buruk rupa sebagai penghambat pemberian pujian.
Seperti pada kehidupan yang kita alami, sebagaian ada yang merasa tersentuh hatinya bila mendapati sesorang buruk rupa, lalu menaruh perhatian cukup besar. Namun yang paling banyak adalah mengutamakan perhatian kepada yang cantik dan tampan. Bahkan ada komentar yang kutang sedang bila ada pasangan cowoknya tampan ceweknya biasa-biasa saja, atau dibalik yang cewek cantik sekali, bahkan menjadi kembang desa dan jadi incaran pemuda, namun pria terkasihnya cowok buruk rupa. Maka komentar orang biasa "seperti bumi dan langit, jauh sekali bedanya, tidak cocok"
Logika membuat pasangan adalah cantik dengan tampan, kulit coklat dengan kulit cokat, negro sama negro dan seterusnya. Itulah cara berpikirnya manusia, pada pasangan dalam pangangan Allah adalah beda contoh siang pasangannya malam, kaya dengan miskin, gembira dengan sedih, lelaki dan perempuan. Namun yang demikian itu oleh manusia disebut lawan. Sehingga muncul nilai tinggi dan rendah dan tinggi dihotmati yang rendah diabaikan.
Dalam sebuah pesta ada dua tamu yang sama-sama tidak dikenal oleh penerima tamu, tamu pertama berparas biasa- iasa saja dan pakaiannya apa adanya sementara tamu yang kedua, sudah cantik bagus pula gaunnya. Kira-kira apa yang terjadi, bisa dipastikan tamu kedualah yang mendapat perhatian dan layanan lebih.
Inilah dunia menilai dari apa yang tampak dan memang itu lebih mudah. Inilah yang menjadi salah satu prnghambat memberi pujian, karena rupa yang diprioritasnya,
====================
Hamim Thohari Majdi
Ha Mim Co
Si cantik dan buruk rupa
Penghambat pemberi pujian
Memimpin dengan pujian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar