MENCIPTAKAN SUASANA KEKELUARGAAN DI LINGKUNGAN KERJA
MENCIPTAKAN SUASANA KEKELUARGAAN DI LINGKUNGAN KERJA
Keluarga sebagaimana termuat dalam Wikipedia Ensiklopedia bebas adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga seperti yang didefinisikan memuat beberapa hal penting yaitu ; ada kepala, ada anggota, menghuni suatu tempat dan saling ketergantungan
Jadilah
Pemimpin Seperti Nabi Ibrahim
Bila diterapkan dalam institusi atau perusahaan,
maka kepala keluarga adalah direktur
disebut juga sebagai pemimpin,
yang tugasnya mengatur dan menggerakkan seluruh anggota guna mencapai tujuan
bersama. pemimpin
mempunyai kewenangan sebagai penanggung jawab dan penanggung gugat utama dalam
berbagai hal yang timbul dari keputusan yang diambil atau akibat tingkah laku atau
sepak terjang anggotanya
Nabiyullah Ibrahim As, patutlah kita
jadikan pedoman sebagai pemimpin ketika menghadapi situasi yang pelik “bak makan buah simalakama yang pasti ada
korbannya meski tidak dimakan”, perintah Allah kepada nabi Ibrahim untuk
menyembelih putra semata wayang Ismail adalah simulasi atas skenario Allah bagaimana
menghindari konflik dan perseteruan dalam sebuah institusi.
Sebagai seorang kepala Ibrahim As tidak bersikap otoriter memaksa Ismail
langsung tunduk dan patuh atas apa yang
diperintahkan. Ismail sang anak diberikan kesempatan memberi masukan kepada
sang kepala atas penyembelihan dirinya dengan metode dialogis, sehingga akhirnya
keduanya sepakat untuk melaksanakan perintah penyembelihan, atas keikhlasn
keduanya Allah mengganti penyembelihan itu dengan seekor kambing. Sebaliknya
andai saja tidak dilakukan dialog dan nabi Ibrahim bersikap otoriter, bisa saja
Ismail menolak perintah itu dan meninggalkan rumah
Saling Hormat Dan Meyayangi
Ciri kedua keluarga adalah adanya
anggota, seperti halnya sholat berjamaah keberadaan imam karena ada makmum, maka
seorang kepala tidak ada artinya bila tidak ada anggotanya, sama halnya seorang
kepala akan merasa berat beban tugasnya,
karena dipikul atau dilaksanakan sendiri, bila tidak ada anggotanya. Oleh
karena itu dalam prinsip manajemen masing-masing individu dalam rumah tangga
tentu mempunyai peran dan kedudukan masing-masing, perbedaan bukan untuk
dipertentangkan, perbedaan dimanfaatkan sebagai alat menutupi kekurangan,
saling memberi manfaat atas kelebihannya, sehingga semua anggota keluarga mampu
memberi konstribusi positif untuk keluarganya
Seperti apa doa super super dahsyat, simak ya....
https://www.youtube.com/watch?v=UiBDqnggKec&t=11s
Rasulullah Saw memberikan warning berkaitan dengan etika dalam berkeluarga yaitu, “tidaklah termasuk ummatku siapa saja yang tidak mau menyayangi yang lebih muda (kecil) dan menghormati yang lebih tua (besar)”. Yang dimaksud tua dalam perusahaan adalah kedudukannya, semakin tinggi jabatannya maka berarti semakin dituakan, karena punya otoritas dalam membuat kebijakan untuk dipatuhi dan dilaksanakan
Anak-anak dalam dunia kerja adalah
para bawahan, staf atau pelaksana sebagai tenaga teknis yang bertugas menjalankan
perintah atasan, Anak durhaka adalah mereka yang berani mengambil kewenangan
atasannya atau meninggalkan atasan dalam bekerja sehingga mengaburkan
kewenangan dan otoritas dalam bahasa
jawa “kebo nyusu gudel”, kepala diatur bawahan
Saling
Menutupi Seperti Selimut
Salah satu syarat menjadi institusi
formal adalah memiliki tempat yang permanen (kantor/sekretariat), sama halnya
dengan sebuah keluarga karena mereka menghuni suatu tempat dan di tempat itulah
seluruh harga diri dan kehormatan dipertaruhkan akan dibentuk keluarga yang
baik atau keluarga yang dibenci, hal tersebut sangatlah bergantung dari
perilaku, sikap dan budi pekerti seluruh anggota keluarganya
Rumah atau kantor berfungsi sebagai
tempat berlindung dari segala hal yang
mengancam penghuninya. Pagar dan tembok yang mengelilingi rumah atau kantor seperti
pakaian bagi manusia, bersikap terbuka dan tertutup, ditutup bila diperlukan
dan dibuka disaat yang tepat, tergantung
kehendak sang penghuni. Ketika tembok-tembok itu dibuka, maka seluruh isi rumah
dapat dilihat dari luar oleh siapa saja, sebaliknya bila tembok itu tetap
tertutup sebagaimana mestinya, maka hanya orang dalam saja yang tahu apa yang ada dan apa
yang terjadi di dalam rumah
Semua karyawan atau pegawai menyandang nama baik
institusinya, karenanya meminta kepada seluruh pejabat dan para pelaksana untuk
menjaga hal-hal yang patut dirahasiakan, jangan terlalu mudah membicarakan aib
sesama pegawai kepada orang lain utamanya pihak luar itu berarti sama dengan
menelanjangi diri sendiri, karena kita sering lupa bahwa yang kita bicarakan
tentang perusahaan termasuk membicarakan
diri kita.
Untuk menghindari aib keluarga diketahui secara umum
(orang luar lebih dahulu tahu dari keluarga sendiri) bila diduga ada kesalahan
atau ada pegawai yang melakukan kesalahan sampaikan kepada pimpinan untuk
dikaji dan ditindak lanjuti guna mencari titik kebenaran , pemimpin yang baik
senang dengan sikap keterbukaan tetapi tidak terbuka secara vulgar dengan
menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, bukan untuk menjatuhkan seseorang.
Tetapi yang
terbaik dari semua itu adalah saling menutupi aib sesama dan menjadi selimut
yang meneteramkan dan indah dipandang
Kita
saling membutuhkan
Manusia disebut sebagai zoon
politicoon, yang berarti tiada manusia yang bisa hidup sendirian terlebih
di perusahaan-institusi,
program-program pimpinan bisa terlaksana karena ada bawahan. Bawahan
membutuhkan atasan sebagai decition maker (pembuat keputusan) dan pemberi
komando untuk menggerakkan suatu organisasi dalam mencapai tujuan sesuai dengan
yang direncaanakan. Seperti halnya anak-anak
membutuhkan orang tuanya yang selalu melindungi dan mengayomi dan selalu
mencarikan solusi dari permasalahan yang dihadapi
Bagi para pemimpin, hendaknya menjadikan dirinya sebagai orang tua
kepada para staf yang diamanahkan kepada kita, tebarlah kasih sayang sehinga
mereka merasa nyaman tenram sebagai anak buah, ajarilah mereka memperbanyak
kawan bukan menambah lawan, bisiki mereka dengan kalimat yang indah bukan
provokasi yang bikin gundah, ajari mereka menjadi orang tua yang bijak, karena
kelak mereka juga akan menjadi pemimpin, secara tidak sadar mereka akan meniru
model kepemimpinan kita
Allah
menyintai orang yang bersekutu untuk kebaikan terlebih dalam rangka mendekatkan
kepadaNya, sebaliknya Allah sangat murka kepada mereka yang bersekutu untuk
kejahatan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang menjauhkan DariNya. Karenanya
sebagai insan yang beragama, mari kita kuatkan energi kebaikan untuk tegaknya
kehormatan institusi kita, mari kita pererat kekeluargaan kita sehingga ketika
ada salah satu yang sakit di antara kita, maka semuanya bisa merasakan, begitu
juga bila ada yang sedang bahagia maka ratakan dan sebarkan agar semua bisa
menikmati. Minimal memandang dengan penuh kemesraan
Hamim Thohari Majdi
MENCIPTAKAN SUASANA KEKELUARGAAN DI LINGKUNGAN KERJA


Tidak ada komentar:
Posting Komentar