Minggu, 23 Mei 2021

MENCIPTAKAN SUASANA KEKELUARGAAN DI LINGKUNGAN KERJA

 MENCIPTAKAN SUASANA KEKELUARGAAN DI LINGKUNGAN KERJA



MENCIPTAKAN SUASANA KEKELUARGAAN DI LINGKUNGAN KERJA

Keluarga sebagaimana termuat dalam Wikipedia Ensiklopedia bebas  adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga seperti yang didefinisikan memuat beberapa hal penting yaitu ; ada kepala, ada anggota, menghuni suatu tempat                                                 dan saling ketergantungan

Jadilah Pemimpin Seperti Nabi Ibrahim

            Bila diterapkan dalam institusi atau perusahaan, maka kepala keluarga adalah direktur disebut juga sebagai pemimpin, yang tugasnya mengatur dan menggerakkan seluruh anggota guna mencapai tujuan bersama. pemimpin mempunyai kewenangan sebagai penanggung jawab dan penanggung gugat utama dalam berbagai hal yang timbul dari keputusan yang diambil atau akibat tingkah laku atau sepak terjang anggotanya

            Nabiyullah Ibrahim As, patutlah kita jadikan pedoman sebagai pemimpin ketika menghadapi situasi yang pelik “bak makan buah simalakama yang pasti ada korbannya meski tidak dimakan”, perintah Allah kepada nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayang Ismail adalah simulasi atas skenario Allah bagaimana menghindari konflik dan perseteruan dalam sebuah institusi.

            Sebagai  seorang kepala   Ibrahim As tidak bersikap otoriter memaksa Ismail langsung  tunduk dan patuh atas apa yang diperintahkan. Ismail sang anak diberikan kesempatan memberi masukan kepada sang kepala atas penyembelihan dirinya dengan metode dialogis, sehingga akhirnya keduanya sepakat untuk melaksanakan perintah penyembelihan, atas keikhlasn keduanya Allah mengganti penyembelihan itu dengan seekor kambing. Sebaliknya andai saja tidak dilakukan dialog dan nabi Ibrahim bersikap otoriter, bisa saja Ismail menolak perintah itu dan meninggalkan rumah

Saling Hormat Dan Meyayangi

            Ciri kedua keluarga adalah adanya anggota, seperti halnya sholat berjamaah  keberadaan imam karena ada makmum, maka seorang kepala tidak ada artinya bila tidak ada anggotanya, sama halnya seorang kepala  akan merasa berat beban tugasnya, karena dipikul atau dilaksanakan sendiri, bila tidak ada anggotanya. Oleh karena itu dalam prinsip manajemen masing-masing individu dalam rumah tangga tentu mempunyai peran dan kedudukan masing-masing, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, perbedaan dimanfaatkan sebagai alat menutupi kekurangan, saling memberi manfaat atas kelebihannya, sehingga semua anggota keluarga mampu memberi konstribusi positif untuk keluarganya

                                  Seperti apa doa super super dahsyat, simak ya....

                                    https://www.youtube.com/watch?v=UiBDqnggKec&t=11s

            Rasulullah Saw memberikan warning berkaitan dengan etika dalam berkeluarga yaitu, “tidaklah termasuk ummatku  siapa saja yang tidak mau menyayangi yang lebih muda (kecil) dan menghormati yang lebih tua (besar)”. Yang dimaksud tua dalam perusahaan adalah kedudukannya, semakin tinggi jabatannya maka berarti semakin dituakan, karena punya otoritas dalam membuat kebijakan untuk dipatuhi dan dilaksanakan

            Anak-anak dalam dunia kerja adalah para bawahan, staf atau pelaksana sebagai tenaga teknis yang bertugas menjalankan perintah atasan, Anak durhaka adalah mereka yang berani mengambil kewenangan atasannya atau meninggalkan atasan dalam bekerja sehingga mengaburkan kewenangan dan otoritas dalam bahasa jawa “kebo nyusu gudel”, kepala diatur bawahan

Saling Menutupi Seperti Selimut

            Salah satu syarat menjadi institusi formal adalah memiliki tempat yang permanen (kantor/sekretariat), sama halnya dengan sebuah keluarga karena mereka menghuni suatu tempat dan di tempat itulah seluruh harga diri dan kehormatan dipertaruhkan akan dibentuk keluarga yang baik atau keluarga yang dibenci, hal tersebut sangatlah bergantung dari perilaku, sikap dan budi pekerti seluruh anggota keluarganya

            Rumah atau kantor berfungsi sebagai tempat  berlindung dari segala hal yang mengancam penghuninya. Pagar dan tembok yang mengelilingi rumah atau kantor seperti pakaian bagi manusia, bersikap terbuka dan tertutup, ditutup bila diperlukan dan dibuka disaat yang tepat,  tergantung kehendak sang penghuni. Ketika tembok-tembok itu dibuka, maka seluruh isi rumah dapat dilihat dari luar oleh siapa saja, sebaliknya bila tembok itu tetap tertutup sebagaimana mestinya, maka hanya orang dalam saja yang tahu apa yang ada dan apa yang terjadi di dalam rumah

            Semua karyawan atau pegawai menyandang nama baik institusinya, karenanya meminta kepada seluruh pejabat dan para pelaksana untuk menjaga hal-hal yang patut dirahasiakan, jangan terlalu mudah membicarakan aib sesama pegawai kepada orang lain utamanya pihak luar itu berarti sama dengan menelanjangi diri sendiri, karena kita sering lupa bahwa yang kita bicarakan tentang perusahaan termasuk membicarakan diri kita. 

Untuk menghindari aib keluarga diketahui secara umum (orang luar lebih dahulu tahu dari keluarga sendiri) bila diduga ada kesalahan atau ada pegawai yang melakukan kesalahan sampaikan kepada pimpinan untuk dikaji dan ditindak lanjuti guna mencari titik kebenaran , pemimpin yang baik senang dengan sikap keterbukaan tetapi tidak terbuka secara vulgar dengan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, bukan untuk menjatuhkan seseorang. Tetapi  yang terbaik dari semua itu adalah saling menutupi aib sesama dan menjadi selimut yang meneteramkan dan indah dipandang

Kita saling membutuhkan

            Manusia disebut sebagai zoon politicoon, yang berarti tiada manusia yang bisa hidup sendirian terlebih di perusahaan-institusi, program-program pimpinan bisa terlaksana karena ada bawahan. Bawahan membutuhkan atasan sebagai decition maker (pembuat keputusan) dan pemberi komando untuk menggerakkan suatu organisasi dalam mencapai tujuan sesuai dengan yang direncaanakan. Seperti halnya anak-anak  membutuhkan orang tuanya yang selalu melindungi dan mengayomi dan selalu mencarikan solusi dari permasalahan yang dihadapi



            Bagi para pemimpin, hendaknya menjadikan dirinya sebagai orang tua kepada para staf yang diamanahkan kepada kita, tebarlah kasih sayang sehinga mereka merasa nyaman tenram sebagai anak buah, ajarilah mereka memperbanyak kawan bukan menambah lawan, bisiki mereka dengan kalimat yang indah bukan provokasi yang bikin gundah, ajari mereka menjadi orang tua yang bijak, karena kelak mereka juga akan menjadi pemimpin, secara tidak sadar mereka akan meniru model kepemimpinan kita

                Allah menyintai orang yang bersekutu untuk kebaikan terlebih dalam rangka mendekatkan kepadaNya, sebaliknya Allah sangat murka kepada mereka yang bersekutu untuk kejahatan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang menjauhkan DariNya. Karenanya sebagai insan yang beragama, mari kita kuatkan energi kebaikan untuk tegaknya kehormatan institusi kita, mari kita pererat kekeluargaan kita sehingga ketika ada salah satu yang sakit di antara kita, maka semuanya bisa merasakan, begitu juga bila ada yang sedang bahagia maka ratakan dan sebarkan agar semua bisa menikmati. Minimal memandang dengan penuh kemesraan 

Hamim Thohari Majdi 

MENCIPTAKAN SUASANA KEKELUARGAAN  DI LINGKUNGAN KERJA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar