PENGUATAN KOMUNIKASI MASYARAKAT MELALUI LITERASI
PENGUATAN KOMUNIKASI
MASYARAKAT MELALUI LITERASI
Penguatan Komunikasi Masyarakat Melalui Literasi.
Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) berfungsi mengelola informasi dan komunikasi antara-warga masyarakat, karenanya KIM dibentuk dan dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat. Perlu diketahui bahwa informasi berasal dari bahasa Latin “informatinem” yang artinya ide, kode, atau garis besar. Informasi dapat disajikan dalam beragam bentuk, mulai dari tulisan, gambar, tabel, diagram, audio, video dan lain sebagainya.
Sedangkan komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seorang
pengirim pesan atau disebut komunikator kepada penerima pesan/sasaran yang
disebut dengan komunikan, baik secara langsung, melalui lisan maupun secara
tidak langsung dengan menggunakan media, yang bertujuan untuk mempengaruhi
pemikiran orang lain, mengubah sikap dan mempengaruhi orang lain untuk
melakukan sesuatu dengan menggunakan media bisa berupa media cetak (koran,
majalah, pamflet, benner dll) dan media elektronika (radio, televisi dan
internet)
Maka
tepatlah untuk menyebar informasi ke masyarakat melalui gerakan literasi, yaitu
seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis,
berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu
yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga literasi tidak bisa dilepaskan
dari kemampuan berbahasa. Maka tepatlah kiranya gerakan ini kita namai gerakan
literasi, dan sah-sah saja bila ada yang usul memberi alternatif nama.
Gerakan Button Up
Era orde baru salah
satu sebutannya adalah era petunjuk, semua kegiatan berdasarkan petunjuk,
melakukan sesuatu menunggu petunjuk, bahkan diampun harus sesuai petunjuk. Sisi
positif era ini, pemerintah proaktif kepada masyarakat dalam mewujudkan
cita-cita pembangunan nasional melalui program-program yang digagas, dirancang,
ditetapkan dan dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat menjadi penikmat dan
penonton. Sisi negatif, ruang kreasi sangat sempit kalau tidak boleh dikatakan
tertutup, sehingga ada beberapa program yang bagus ditingkat perencaan tetapi
tidak bisa diterapkan karena berbeda situasi.
Oleh-oleh apa yang pantas untuk tamu istimewa, simah video di bawah ini
https://www.youtube.com/watch?v=0WrHeWM1BSQ
Karenanya gerakan yang
sedang kita gagas saat ini, adalah gerakan pola Buttom Up, gerakan arus bawah,
kita yang hadir di sini baik secara perseorangan atau mewakili masyarakat
menginginkan gerakan ini. Dengan demikian gerakan ini akan mudah diterima dan
didukung oleh masyarakat, tanpa ketergantungan dari pimpinan. Sehingga siapun
pimpinannya gerakan ini terus berjalan.
Hadirnya gerakan ini,
tidak bukan hanyalah mengekplorasi kekayaan alam desa, keunggulan Sumber daya
manusia, potensi budaya dan seni. Sehingga kesuksesan gerakan ini bergantung
kepada tingkat kesungguhan warga dan kedisiplinan tim atau penangung jawab
kegiatan.
Harapannya potensi yang
sudah ada bisa lebih didaya gunakan, yang belum tergali setidaknya sudah
terdeteksi dan dilakukan identifikasi sebagai bahan berpikir kreatif dan
melakukan inovasi, sehingga menambah jumlah produk unggulan.
Bila kita sepakat
memberi nama ini sebagai gerakan literasi, maka mari kita maknai literasi
secara bebas dan luas, sebagai gerbang pelaksanaan program, gerakan ini akan
melakukan pencatatan terhadap kilas sejarah, hal-hal yang disakralkan, adat
istiadat dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang hingga keturunan kita saat
ini.
Gerakan ini di samping
pusat penyerap dan penyebar informasi, juga berfungsi sebagai pelekat hati
antar remaja atau pemuda desa serta persilangan pergaulan dengan segala usia.
Sehingga tumbuh budaya keteladanan, saling sharing dan berbagi.
Pemuda, kamulah yang
akan duduk di sini di kemudian hari, engkau kan berada di garis terdepan, para
orang tua kan menjadi pendamping setia kalau tidak boleh disebut sebagai
penasihat. Pemuda era milenial sangat melek dengan Teknologi Informasi, maka
berilah kesempatan untuk berkreasi dan berkonstribusi kepada desa, biarlah mereka
yang mengelola utamanya sebagai operator.
Datalah seluruh pemuda
desa di manapun keberadaannya, sebab koordinasi tidak harus bertatap muka,
meski kopi darat diperlukan. Undang mereka melalui medsos dan jadikan mereka sebagai
salah satu bagian pemilik, pelaku dan penikmat program ini.
Libatkan unsur Birokrasi dan Dunia Usaha
Semakin banyak
dukungan, memudahkan atau meperlancar pelaksanaan program. Pihak yang tidak boleh
dilupakan adalah birokrat sipil, TNI-Polri. Birokrat memiliki peran penting
sebagai pemberi acuan dan kontrol, karena kebijakan dan aturan-aturan
dilahirkan dari birokrasi.
Melibatkan para
pengusaha atau pihak-pihak lain terkait berfungsi sebagai bemper atau
sponsorship untuk menghemat pengeluaran internal. Semakin banyak kegiatan yang
didanai oleh pihak sponsor semakin meringankan beban pengelola. Tetapi yang
perlu diingat bantuan-bantuan dari manapun sumbernya tidak ada ikatan atau
kompensasi yang bisa menciderai kehormatan. Karena itu setiap ada sponsor perlu
diperjelas diawal, setidaknya tertuang dalam MoU sehingga kedua belah terikat
dalam kesepakatan yang dibuat.
Pembentukan Tim
Agar program ini
berjalan sesuai harapan perlu dibentuk tim atau satgas yang fokus menangani,
tugas tim adalah membuat kerangka kerja tim, membuat rencana atau program
kerja, siapa saja yang dilibatkan, sarana prasarana yang dibutuhkan, membuat
jadwal, evaluasi dan pelaporan.
Tim bisa jadi melekat
dengan KIM sehingga tidak perlu membentuk tim baru, hadirnya program ini
diharapkan tidak menambah beban kegiatan yang ada, justru menjadi penyemangat
untuk berlomba menyuguhkan yang terbaik kepada masyarakat.Setidaknya tim ini
bertugas :
1. Menggali
sejarah desa, hal ini penting sebagai acuan dalam pembangunan, mengetahui
pendiri desa, filosofi masyarakatnya dan hari tanggal disakralkan sebagai
tonggak lahirnya desa
2. Membangun
branding desa yang akan dijadikan desa atau kampung dengan keunggulan dan
keunikannya. Sehingga lahirlah logo atau simbul desa dan sumber motivasi dan inspirasi
3. Membuat
peta desa disertai fasilitas umum dan TKD atau tanah yang dikuasi oleh desa
4. Membuat
peta titik-titik informasi, baik berkaitan dengan literasi (perpusatkaan atau
pojok baca)
5. Membuat
peta kerajinan/home industri dan pusat-pusat usaha
6. Menyusun
struktur dan melengkapi personalianya
7. Mengumpulkan
pemuda pemudi yang memiliki kemampuan sebagai operator medsos
8. Membuat
medsos (WA grup sebagai sumber informasi- kasun RW RT, KELOMPOK pengajian, kader
posyandu dan lainnya.
9. Membuat
program kerja
10. Matrik
kegiatan
Sebagai penegas, progra ini akan jalan bila
direncanakan dengan baik dan dikerjakan sesuai rencana serta dibutuhkan
evaluasi dan pelaporan. Semoga ikhtiar ini mempunyai nilai investasi,
PENGUATAN KOMUNIKASI
MASYARAKAT MELALUI LITERASI
Hamim Thohari Majdi
qqqq
BalasHapus