Senin, 24 Mei 2021

PENGUATAN KOMUNIKASI MASYARAKAT MELALUI LITERASI

 PENGUATAN KOMUNIKASI MASYARAKAT MELALUI LITERASI

 

PENGUATAN KOMUNIKASI MASYARAKAT MELALUI LITERASI 

Penguatan Komunikasi Masyarakat Melalui Literasi. 
Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) berfungsi mengelola informasi dan komunikasi antara-warga masyarakat, karenanya KIM dibentuk dan dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat. Perlu diketahui bahwa informasi berasal dari bahasa Latin “informatinem” yang artinya ide, kode, atau garis besar. Informasi dapat disajikan dalam beragam bentuk, mulai dari tulisan, gambar, tabel, diagram, audio, video dan lain sebagainya.

Sedangkan komunikasi  adalah proses penyampaian pesan oleh seorang pengirim pesan atau disebut komunikator kepada penerima pesan/sasaran yang disebut dengan komunikan, baik secara langsung, melalui lisan maupun secara tidak langsung dengan menggunakan media, yang bertujuan untuk mempengaruhi pemikiran orang lain, mengubah sikap dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan media bisa berupa media cetak (koran, majalah, pamflet, benner dll) dan media elektronika (radio, televisi dan internet)

  Maka tepatlah untuk menyebar informasi ke masyarakat melalui gerakan literasi, yaitu seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Maka tepatlah kiranya gerakan ini kita namai gerakan literasi, dan sah-sah saja bila ada yang usul memberi alternatif nama.

 

Gerakan Button Up

Era orde baru salah satu sebutannya adalah era petunjuk, semua kegiatan berdasarkan petunjuk, melakukan sesuatu menunggu petunjuk, bahkan diampun harus sesuai petunjuk. Sisi positif era ini, pemerintah proaktif kepada masyarakat dalam mewujudkan cita-cita pembangunan nasional melalui program-program yang digagas, dirancang, ditetapkan dan dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat menjadi penikmat dan penonton. Sisi negatif, ruang kreasi sangat sempit kalau tidak boleh dikatakan tertutup, sehingga ada beberapa program yang bagus ditingkat perencaan tetapi tidak bisa diterapkan karena berbeda situasi.

Oleh-oleh apa yang pantas untuk tamu istimewa, simah video di bawah ini

https://www.youtube.com/watch?v=0WrHeWM1BSQ

Karenanya gerakan yang sedang kita gagas saat ini, adalah gerakan pola Buttom Up, gerakan arus bawah, kita yang hadir di sini baik secara perseorangan atau mewakili masyarakat menginginkan gerakan ini. Dengan demikian gerakan ini akan mudah diterima dan didukung oleh masyarakat, tanpa ketergantungan dari pimpinan. Sehingga siapun pimpinannya gerakan ini terus berjalan.

 Berbasis Kompetensi Desa

Hadirnya gerakan ini, tidak bukan hanyalah mengekplorasi kekayaan alam desa, keunggulan Sumber daya manusia, potensi budaya dan seni. Sehingga kesuksesan gerakan ini bergantung kepada tingkat kesungguhan warga dan kedisiplinan tim atau penangung jawab kegiatan.

Harapannya potensi yang sudah ada bisa lebih didaya gunakan, yang belum tergali setidaknya sudah terdeteksi dan dilakukan identifikasi sebagai bahan berpikir kreatif dan melakukan inovasi, sehingga menambah jumlah produk unggulan.

Bila kita sepakat memberi nama ini sebagai gerakan literasi, maka mari kita maknai literasi secara bebas dan luas, sebagai gerbang pelaksanaan program, gerakan ini akan melakukan pencatatan terhadap kilas sejarah, hal-hal yang disakralkan, adat istiadat dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang hingga keturunan kita saat ini.

 Memanfaatkan pemuda

Gerakan ini di samping pusat penyerap dan penyebar informasi, juga berfungsi sebagai pelekat hati antar remaja atau pemuda desa serta persilangan pergaulan dengan segala usia. Sehingga tumbuh budaya keteladanan, saling sharing dan berbagi.

Pemuda, kamulah yang akan duduk di sini di kemudian hari, engkau kan berada di garis terdepan, para orang tua kan menjadi pendamping setia kalau tidak boleh disebut sebagai penasihat. Pemuda era milenial sangat melek dengan Teknologi Informasi, maka berilah kesempatan untuk berkreasi dan berkonstribusi kepada desa, biarlah mereka yang mengelola utamanya sebagai operator.

Datalah seluruh pemuda desa di manapun keberadaannya, sebab koordinasi tidak harus bertatap muka, meski kopi darat diperlukan. Undang mereka melalui medsos dan jadikan mereka sebagai salah satu bagian pemilik, pelaku dan penikmat  program ini.

 

Libatkan unsur Birokrasi dan Dunia Usaha

Semakin banyak dukungan, memudahkan atau meperlancar pelaksanaan program. Pihak yang tidak boleh dilupakan adalah birokrat sipil, TNI-Polri. Birokrat memiliki peran penting sebagai pemberi acuan dan kontrol, karena kebijakan dan aturan-aturan dilahirkan dari birokrasi.

Melibatkan para pengusaha atau pihak-pihak lain terkait berfungsi sebagai bemper atau sponsorship untuk menghemat pengeluaran internal. Semakin banyak kegiatan yang didanai oleh pihak sponsor semakin meringankan beban pengelola. Tetapi yang perlu diingat bantuan-bantuan dari manapun sumbernya tidak ada ikatan atau kompensasi yang bisa menciderai kehormatan. Karena itu setiap ada sponsor perlu diperjelas diawal, setidaknya tertuang dalam MoU sehingga kedua belah terikat dalam kesepakatan yang dibuat.

 


Pembentukan Tim

Agar program ini berjalan sesuai harapan perlu dibentuk tim atau satgas yang fokus menangani, tugas tim adalah membuat kerangka kerja tim, membuat rencana atau program kerja, siapa saja yang dilibatkan, sarana prasarana yang dibutuhkan, membuat jadwal, evaluasi dan pelaporan.

Tim bisa jadi melekat dengan KIM sehingga tidak perlu membentuk tim baru, hadirnya program ini diharapkan tidak menambah beban kegiatan yang ada, justru menjadi penyemangat untuk berlomba menyuguhkan yang terbaik kepada masyarakat.Setidaknya tim ini bertugas :

1.      Menggali sejarah desa, hal ini penting sebagai acuan dalam pembangunan, mengetahui pendiri desa, filosofi masyarakatnya dan hari tanggal disakralkan sebagai tonggak lahirnya desa

2.      Membangun branding desa yang akan dijadikan desa atau kampung dengan keunggulan dan keunikannya. Sehingga lahirlah logo atau simbul desa dan sumber motivasi dan inspirasi  

3.      Membuat peta desa disertai fasilitas umum dan TKD atau tanah yang dikuasi oleh desa

4.      Membuat peta titik-titik informasi, baik berkaitan dengan literasi (perpusatkaan atau pojok baca)

5.      Membuat peta kerajinan/home industri dan pusat-pusat usaha

6.      Menyusun struktur dan melengkapi personalianya

7.      Mengumpulkan pemuda pemudi yang memiliki kemampuan sebagai operator medsos

8.      Membuat medsos (WA grup sebagai sumber informasi- kasun RW RT, KELOMPOK pengajian, kader posyandu dan lainnya.

9.      Membuat program kerja

10.  Matrik kegiatan

Sebagai penegas, progra ini akan jalan bila direncanakan dengan baik dan dikerjakan sesuai rencana serta dibutuhkan evaluasi dan pelaporan. Semoga ikhtiar ini mempunyai nilai investasi,

PENGUATAN KOMUNIKASI MASYARAKAT MELALUI LITERASI


Hamim Thohari Majdi




1 komentar: