Sabtu, 21 Agustus 2021

MENUJU KEPANTASAN

MENUJU KEPANTASAN 


Menuju Kepantasan. Hidup ini berkait erat dengan kepantasan, pantas atau tidak ini dilakukan. Pantas dalam konteks atar manusia, dalam pandangan diri dan di hadapan Allah Swt. Ketiga dimensi kepantasan harusnya menjadi selaras agar hidup menjadi tenang, karena bisa memantaskan diri yang berkesuasian dengan ukuran norma yang berlaku dalam masyarakat dan cermin pribadi yang diidamkan menuju cintaNya.

Untuk mengukur kepantasan ada tiga strandart yakni subyektivitas bersumber dari asumsi yang dibangunannya sendiri berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, sehingga kepantasan ini menenangkan dirinya. Kedua adalah kepantasan ilmiah sebagai nitma obyektif yang diciptakan dengan mengumpulkan fakta dan data dari berbagai sumber, yangb dicari adalah kesamaan kolektif. Maka kepantasan ilmiah ini bersifat fluktuatif, berkembang dan berkurang sesuai dengan jumlah fakta terkumpul. Ketiga adalah kepantasan obyektif berdasar pada kriteria yang dikehendaki dalam nurma keagamaan sebagaimana tertuang dalam kitab suci sebagai dogma ajaran agama, ini sebagai kepantasan mutlak dan dijadikan acuan utama.
Tentu saja yang terjadi falam masyarakat lebih banyak menggunakan kepantasan subyektif, yang menurutnya mudah dilaksanakan dan menyenangkan dirinya sendiri, tanpa memedulikab keadaan orang lain. Kepantasan subyektivitas ini rawan memunculkan konflik, karena perbedaan sudut pandang dan kriteria yang ditetaokan. Inilah yang memunculkan orang lemah dan orang kuat. Siapa yang kuat akan menguasai, si lemah ditindas atau menumbuhkan minoritas dan mayoritas. Karenanya setiap individu memiliki daya juang dan bertahan yang berbeda-beda bertahan agar kepantasn subyektivitasnya diakui secara kolektif dalam lingkungan sosialnya. Berjuang untuk melawan pihak-pihak yang menyerang dan mempengaruhi untuk beralih mengakui kepantasan pihak lain. Cara keji akan dilakukan bila hatkat martabatnya merasa dihina dan direndahkan. Inilah awal dari susutnya nilai fmdan citra kemanusiaan. Maka kembali mengingatkan agar pendidik memneri jaminan bahwa siswanya benar-benar memegangi fitrah kemanusiaannya. Salah satu cirinya adalah menjadikan spirit Ketuhanan sebagai energi dan motivasi dalam menjalan misi kemanusiaan. Negitu pola notma dan spirit kemanusiaan dijadikan alas dalam.memperlakukan orang lain. 
Batas antara manusia dan hewan adalah pada cara memerankan hidup ini, jalan apa gang digunakan dan tujuan mana yang ditetapkan. Selagi mengikuti jalan kenabian dan menuju jalan Tuhan itulah sejatinya citra kemanusiaan yang dicitakan oleh sang pencipta Allah Swt. Maka ajaklah ke jalan kebenaran agar langkahnya benar, caranya benar dan muatan aksinya mengandung kebenaran.

 
==========================
Hamim Thohari Majdi
Ha Mim Co
Menuju Kepantasan

Dalam menjaga citra kemanusiaan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar